Tampilkan postingan dengan label Contoh Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 31, 2013

Cerpen | Cerita Cinta Semalam

Berkaca di depan cermin. Menata rambut. Menyunggingkan senyum. Cukup tampan, batinnya. Kini ia memakai seragam silat. Baju hitam gagah, celana putih bersih, ouh tunggu! Ada yang aneh di celananya! Banyak belepotan tanah liat, dan... masih basah! Wajar saja, selama empat puluh sembilan jam dua puluh tiga menit tiga belas detik, (dramatis bingidh -_- ) tidak ada panas sang surya sama sekali. Mendung terus menyelimuti, titik air dari langit terus menerus turun ke bumi. Membuat genteng-genteng rumah yang berlumut menjadi bersih kembali. Membuat wajah orang jelek menjadi ganteng, eh bukan, jadi tambah jelek maksudnya. Hehe... udah ah, cerita ujan mulu... lanjut ke cerita! Meski celananya basah, ia masih tetap pe de memakainya. Dan masih semangat dalam hari yang bersejarah (?) baginya, PENGUKUHAN! Beruntung hujan terus berlanjut sehingga acara terpaksa dilaksanakan di dalam ruangan.

 Singkat cerita, pengukuhan telah usai. (Ngapain di atas diceritain coba? -_- ) Sesampainya di rumah, ia segera merebahkan diri. Tubuhnya terasa sakit semua, kepala pusing, mata merah, tangan pegel, kaki terkilir, leher tegang, perut keroncongan. Eh? Keroncongan? Ah, iya. Selama dua hari semalam di tempat pengukuhan, ia hanya makan dua kali! Itu pun hanya nasi kucing dari Rumah Makan *sensor* (bukan sponsor penulis!), dan cemilan malam yang sangat enak untuk di makan (dalam hati : ‘di buang’ :3 ._.v piis~), tentu saja makanan khas daerah setempat : LANTHING! T.T “Masya Allah~ gigiku udah pada lubang (tanda-tanda penuaan itu mah :v ), malah suruh makan kayak ginian... yah, terpaksa deh, perut udah demo dari jam empat sore -_-” keluhnya malam itu. Nasi kucingnya lumayan dapet bonus : ayam goreng. (Wah~ yang habis duluan mah ayamnya.. kkk~ :v *bercanda*)

Ia mencoba duduk di kursi belajarnya. Ekor matanya menangkap sesuatu : barang baru yang mendiami mejanya. Selain buku, tas, topi, kalender, kertas folio, lem, ballpoint, dasi, hashduk, laptop, charger, kotak nasi, hape, rasul dari dubur al-cicaakun (?), bahkan celana dalamnya, (uups :v ketahuan deh) ternyata ada penghuni baru. Sebuah amplop! -_- tunggu dulu... bukan hanya sekedar amplop. Di situ tertulis namanya. Begitu di buka, ah, ternyata isinya kertas (bukan duit -_-). Oh~ ternyata KHS. Kartu Hasil Studi. Ia lihat IPK yang ia dapat. Matanya membesar. Di bawah IPK ada rankingnya. Matanya tambah membesar. (awas~ tiarap!) eh, nggak meledak tau! -_- Bergegas ia berteriak “Yes! Alhamdulillah~” dan “Buu~!” (-_- dasar anak mamih!) “Asyik~ aku dapet ranking...” eh~ stop! Tunggu dulu. “Apaan sih? Orang lagi seneng.” Eits! Gue yang nulis cerita ini, loe harusnya patuh sama gue. Seharusnya loe jangan ngasih tau ke pembaca soal rangkingmu. Nanti mereka minta traktiran sama gue. “Cih, emang kenapa? Itu kan De El, derita loe!” Eoh? Loe nantang gue?! Gue hapus loe dari cerita ini lho! “Eh... iya, iya maap... gitu doang sampe ngancem. Dasar penulis egois!” Eh? Apa loe bilang? “Eh, nggak kok enggak...” (tokoh baru udah seenaknya sendiri... -_- ini yang gila penulisnya apa yang baca? :v hehe..)

①④③

Hari libur membuatnya bosan. Meski sebenarnya boleh tidak berangkat sekolah, tetapi ia tetap berangkat. Wajar saja, jika di rumah maka yang terjadi adalah “Alip!! Bangun! Udah siang! Makan! Trus nyuci... tuh cucian banyak! Kamarnya di sapu! Tolong adikmu dijaga, ibu mau ke pasar!”, itu baru dari ibu, kalo ayahnya... “Aduh, Lip, kaki bapak pegel nih. Pijitin, ya... coba tolong ini itungin berapa jumlahnya... Lip, buatin minum, ada tamu...” Aduh~ kasihan sekali Alip ini. Berhubung libur, maka semua pekerjaan rumah yang jarang ia lakukan menjadi ia lakukan. Dan parahnya, pekerjaan itu numpuk brak bruk begitu saja. Belum lagi adiknya, “Mamas! Beliin cacan! Aku mo yang icu... Mamas, cepedaan.. Mamas, pipis!!” dan kalau nangis pasti yang disalahin dirinya. Haduh, nasib jadi anak pertama dan punya adik cowo yang bandel. Sampai-sampai dia protes ke gue, “Eh, penulis! Kalo buat cerita jangan nyusahin tokohnya dong! Ini tangan gue kriting! Pakaian gue kena najis terus... rambut gue berantakan dicakarin adek gue... huaaa~~~” Noh, kan, dia sampe nangis. Kkk~ :v Toh akhirnya gue jadiin loe berangkat sekolah lagi biar ‘siksaan’mu jadi ngurang. Berterimakasihlah ke gue. Hahaha... (noh, ribut lagi coba? Siapa sebenernye yang gila... -_- ckckck)

  ‘Freeday’nya tak bertahan lama. Tujuh hari setelah itu, ia harus libur. Kok harus? Jangan tanya aku. Tanya sekolahnya. :v Beruntung orang tuanya juga berlibur ke luar kota. Ia diajak, tapi ia menolak. Hari-hari itu ia ingin habiskan dengan hibernasi di pulau kapuk. Kalau malam ia tidur jam delapan, dan bangun jam sembilan pagi. Noh? Tiga belas jam dia hibernasi. Katanya, “Mumpung bapak sama ibu lagi ke luar kota, gue tidur aja lah. Lumayan hibernasi tiga hari.” Jadi, sekarang ia udah dapet freedom dua kali. Noh, terima kasih sama penulisnya. Eh, dia udah ketiduran. Damn you!!! 3:@ (ribut lagi ribut lagi -_- ckckck)

#SKIP

Cerita kembali ke masa SMPnya. Saat itu sudah kelulusan. Entah ada angin apa, ia sudah ada di sebuah lingkaran manusia. Nah, lho? Maksudnya ada sebuah forum gitu. Di forum itu banyak sekali teman-temannya. Forum itu cukup aneh juga acaranya : menyatakan cinta pada pujaan hatinya di hadapan orang banyak. Nah, dia bingung sendiri tuh. Wajar saja, dia adalah seorang yang innocent. Mengenal wanita saja tidak. (wih, sombongnya~ :v) Namanya saja innocent; lugu. Satu persatu dari mereka sudah ada yang berani ngomong siapa yang mereka suka. Nah, di tempat itu juga, di waktu itu juga, si cewe yang ditembak harus jawab ke si cowo. Aneh juga, ya? GaJe, gag jelas. Ah, biarin, gue juga bingung mau buat kayak gimane critanye. Ah iya, untuk menambah semangat para peserta forum, yang paling romantis membuat kata-kata menembaknya, lolos ke babak selanjutnya. Aduh, apalagi nih? Tambah gaje. Nah, pemenangnya nanti dapat tiket jalan-jalan dengan pesawat terbang ke Korea, eh jangan jauh-jauh deh, ke Bali aja ya? Hehehe... ._.v (ada-ada aja penulisnya ini, emang bener-bener gila kali ya?)

Ketika itu, ada teman Alip yang bernama Abadi, cowok bertubuh tinggi dan sedikit keren, menyatakan cintanya pada Indri, gadis berkacamata. “Wahai, Indri... tiap malam aku tak bisa tidur, siang malah aku ngantuk, karena memikirkan paras wajahmu. Tiap kulihat rembulan, wajahmu selalu menyertainya. Tiap kulihat bintang, perlahan wajahmu terbentuk dari bintang-bintang itu.” Terlihat wajah gadis berkacamata itu mulai tersipu. Abadi berdehem, “Indri... tiga kata yang ku tahu. Aku...” hening. “Aku... s...sss...” mulai tegang, wajah abadi pucat. “Aku sss... sakit peruuuuuut~” tawa berdendang. Abadi segera lari ke toilet. Mungkin itu adalah pengungkapan cinta, eh sakit perut yang terbaik yang pernah ada.

 

①④③

Dari keramaian itu, Alip melihat seorang gadis dengan rambut diikat kebelakang. Poninya ke samping kanan. Sejak tadi ia terlihat gembira. Jika menurut pandangan Alip, maka ia akan menilai gadis itu, “Wah~ ada Es Pelangi... slrrrp, gue mau beli ah.” -_-

CUUUT! Woy! Loe gimana sih? Seharusnya loe bilang wah, gadis yang cantik, kenapa loe malah liat es pelangi?! “Sorry, gue udah lama gag makan es pelangi. Hehe...” Argh, ya udeh, terserah loe aja. Maaf pembaca yang baik, saya sedang ribut dengan aktor saya (udah dari tadi kali? -_- ) “Ahh~  penulis. Gue punya ide! Sinih gue bisikin.” Swswswswswssstttttt (?) Oke. Camera! Action!

Back to story. Gadis itu bak Michele Chen dalam film You Are The Apple of My Eye. Pernah nonton? (kagak) Kudet! :D Ya pokoknya gitu deh, so pretty. Ia lupa namanya. “Nggak, kok, gue tau namanya.” Diem! Ceritanya kan loe nggak tau. Aduh, susah diatur, nih aktor. Oke. Ia pun menanyakan pada teman sebelahnya. “Hey, Anwar, kamu tau nama cewe itu?” tanyanya.
“Tau dong... dia itu...” nggantung.
“Siapa? Cepetan...” pintanya.
“Hehe... wani piro?” mata licik, gerakan alis, dan senyum kemenangan bagi Anwar.
“Aish, kau ini. Nanti, deh, aku traktir es pelangi,” mengalah lebih baik.
“Nah, itu baru temen gue. Oke. Dia itu... Anggi Rahma siapa gitu... gue juga lupa.” Senyum polos menghiasi wajah Anwar. Bletak# Sebuah jitakan dari Alip mendarat di kepalanya. “Aduh... gimana sih? Gue kan udah ngasih tau.”
“Ngasih tau sih iya, aku cuma pengen jitak palamu aja.”
“Huuuh.. jangan lupa espel gue.”
“Tenang aja.” Setelah aku dapatkan Anggi, batinnya. Baru saja terdengar ungkapan dari seorang cowok bertubuh raksasa, maksudnya gemuk, yang ditujukan pada cewek yang lumayan, kulitnya... wih~ Hitam berkilau. Giginya, eh maksudnya kepalanya mundur tiga senti dari gigi depannya. Dan beruntungnya, si cewek menolaknya. Bayangkan saja, cowok yang gemuk seperti “sumpel bom” dan cewek yang mengaku kalau bukan giginya yang maju tetapi kepalanya yang mundur berpacaran. Bayangpun! Ckckck. Setelah ditolaknya, si cowok malah menangis tersedu-sedu. Ouh, kasihan, mungkin hanya itu kesempatan yang dimilikinya. Tiba-tiba si Anwar maju. “Wah, mau nembak siapa kamu?” tanya Alip. Dia tidak menjawab, hanya mengacungkan dua jarinya seperti huruf V. (-_-v)
“Ehem, ehem...” Anwar berdehem. “Anggi...” A... apah?!, batin Alip. “Kau gadis yang paling cantik.” #backsong_on

♬“Anggi... kau gadis yang paling manis. Anggi... kau gadis yang paling sexy. Anggi... kau gadis yang paling baik. Sungguh ku tak mengerti ini bisa terjadi padaku. Kucinta padamu, kusayang padamu, oh Anggi. Sungguh mati ku ingin bisa mendapatkan dirimu. Walau begitu jauh ‘tuk bisa berjumpa denganmu.”♬ (Sembilan Band – Hafizah, dengan perubahan seperlunya :p) 

Alip terkejut pada Anwar. Ternyata... dia bisa bernyanyi! O.o Waw~ #plak Maksudnya, ternyata ia juga menyukai Anggi. Alip melirik pada Anggi. Ia terkikik. Ups, maksudnya bukan hanya dia yang terkikik, tetapi yang lain juga, bahkan terbahak. Apakah nyanyian Anwar jelek? Kurasa tidak, batin Alip. Dia menyanyi sangat ‘merdu’. Merusak dunia! Ba dum tss, hahahahaha, tawanya dalam hati. Perlahan cewek yang bernama Anggi berdiri. Senyumnya, maksudnya karena ia menahan tawa yang teramat sangat susah untuk ditahan, membalas nyanyian Anwar dengan sebuah lagu.

♫ “Inilah akhirnya, harus kuakhiri. Sebelum cintamu semakin dalam. Maafkan diriku memilih setia, walaupun ku tahu cintamu, lebih besar darinya.” ♫

Semua melongo, bukan karena kecantikan Anggi, bukan juga karena sejudes itukah seorang Anggi, tetapi karena... waw~ suaranya keren... +.+ Mungkin Fatin pun kalah. Kalau digambarkan, suaranya itu seperti suara Agnes Monika di Indonesia, atau suara Tae Yon Girls Generation di Korea, atau Hanna Montanna dari Amerika. Eh, tapi kok nggak nyambung ya? Suara mereka, kan, nggak ada yang mirip. Aduh, payah nih penulis. Alip melihat ekspresi Anwar. Ia kaget melihat Anwar. Tubuhnya kaku, mata membesar, mulut melongo, bisa ditebak pikirannya jika ia shock berat. Tetapi...

♬ “Terima kasih cinta untuk segalanya kau berikan lagi jawaban itu takkan kuulang lagi semua”  

Sungguh tak disangka, Anwar masih bisa bernyanyi. Kini suaranya bukan merdu (merusak dunia) lagi, tetapi semakin merdu (semakin merusak dunia). Seharusnya suasana forum menjadi hening, syahdu, sedih, karena lagunya sangat dihayati oleh penyanyinya. Tetapi mereka malah terbahak-bahak. Anwar yang juga berwajah innocent hanya menunjukkan wajah lemas, mata menyipit, tubuh membungkuk, ia berjalan tanpa tenaga kembali ke sampingku. Forum masih berlanjut. Si Abadi baru saja keluar dari tempat persembunyiannya setelah membuang hajat. Dia bilang pada Alip, “Sial, aku mencret. Yah, jadi salah ngomong deh tadi.”
“Yang berlalu biarlah berlalu. Ini kasihan temen kita, baru saja di tolak oleh gadis itu,” kata Alip.
“Oh, Anwar, kenape loe tetep nembak terus cewek itu? Bukannye loe udah dua kali ditolak mateng-mateng? Masih aja belom kapok ya? Ckckc~ hebat loe...” Abadi mengacungkan jempol. Anwar masih belum bisa bicara, satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya adalah...
“Aku lapar...” -_- yak? “Eh, Lip, mana janji loe? Gue udah laper nih.”
“Tenang, bentar lagi. Aku mau maju abis ini.” Alip bingung kata apa yang akan ia ucapkan pada gadis sebaya yang pertama ia kenal. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia menemukannya. Dengan hati yang telah mantap, saatnya ia mencoba untuk mendapatkan mangsa (?) pertamanya. “Bla bla bla... oke, yosh!” Kira-kira, kata apa yang akan diucapkannya? Dan kepada siapa?

Kini tiba gilirannya. Ia sudah di tengah-tengah forum yang aneh itu. Kata pertama yang muncul adalah, “Ehem... sebenarnya aku tak tahu apa itu cinta, aku hanya tau kalau dirimu cantik. Aku tak tahu apa itu sayang, yang kutahu kau sangat manis. Aku tak tahu apa itu pacaran,  yang kutahu aku ingin berada dekat denganmu. Pertama kali aku melihatmu berada di forum ini. Aku juga baru tahu namamu. Anggi... jika kau tak bisa menjawab ini, kau harus menerimaku. Tahukah kau arti dari 1-4-3?” sebenarnya ini agak aneh. Tentu saja aneh, orang mau nembak malah ngasih teka-teki. Selain itu juga, ini sebuah paksaan. Wah, benar-benar nih Alip. Tapi tunggu, lihat ekspresi wajah Anggi! Dia tampak biasa saja. Mungkinkah ia tahu artinya?

“Aku tahu artinya,” dengan senyum ia menjawab. Aduh, sial, batin Alip. “1-4-3 itu I Love You, kan?” Alip langsung mati kutu, ia yakin pasti ia akan ditolak. “Karena kau menggunakan teka-teki, maka aku juga akan menjawab dengan teka-teki : 4-8-6.” Alip terkejut. Apakah ia tidak salah dengar dengan jawaban itu? Mungkinkah ini keberuntungannya?

“E... 4-8-6 itu apa yah?” -_- yak! Kau ini, loe seharusnya tau itu. Haruskah kuberitahu? “Iya lah~ loe kan yang nulis cerita.” Oke, oke. 4-8-6 itu berarti : Sa-rang-hae. Paham? “Oh, saranghae. Saranghae itu apa?” gubrakk# loe ini kudet banget sih? Saranghae itu I Love You, pabbo! “Oh, kalo pabbo itu apa?” Pabbo itu ya loe, kudet. “Oh, yayaya, jadi ceritanya dia nerima gue? Oke, deh.” Haduh, daripada bikin pusing, mending kita skip aja.

#SKIP

Hari itu Alip dan Anggi jalan-jalan. Mereka tidak seperti pasangan yang lain. Mengapa? Lihat saja percakapan mereka dan tingkah laku mereka. “Eh, aku laper nih,” dengan muka polos Alip mengutarakan isi perutnya, eh, hatinya.
“Aku capek, kakiku pegel,” Anggi balas mengutarakan isi hatinya.
“Kalo gitu, kita makan aja yuk...”
“Jangan disitu lah, duduk di sini aja...” lho? Kok nggak nyambung.
“Makanannya kayaknya enak kok, nggak mau?” Aduh, ini tambah parah.
“Udahlah, jangan jauh-jauh duduknya, di sini aja.” Yah, wajar saja mereka seperti itu. Telinga mereka ditutupin pake headset semua. Haduh, penulis kudu bertindak nih. Woy! Headset loe berdua copot, dong! Nah, gitu dong. Oke, next.
“Jadi penulis suka ikut campur banget sih? Orang lagi pacaran diganggu.”
“Iya, tuh. Dari kemaren juga aku disalahin terus sama dia. Mungkin dia cemburu.”
“Hihihi, iya kali. Penulisnya kan, jomblo,” Anggi berbisik.
“Kkk~, sst, nanti dia tau, kkk~” Alip balas berbisik.
“Iya, iya, hihihi.”
“Eh, ngomong-ngomong aku belum punya nomor Hpmu.”
“Oh, catet ya? 083863xxxxxx.”
“Kok, sekian-sekian, sih? Yang jelas dong.”
“Aduh, nanti pembaca jadi tahu. Sini deh, aku aja yang nulis.” Meskipun banyak kontroversi (?), akhirnya mereka saling bertukar nomor HP mereka. Dan mereka juga telah berhasil membuatku malu dihadapan pembaca. T^T glek#. Sungguh sulit menghadapi kenyataan bahwa aku ini jomblo. Huaa~
Alip berkomentar, “Daripada ndengerin kegalauan si penulis, kita skip aja ceritanya.”

#SKIP

Meski sebenarnya Alip adalah seorang cowok innocent, ia sebenarnya memiliki wajah tampan. Hanya saja, ia telah kehilangan bakat untuk menjadi cowok ganteng. Sedangkan Anggi adalah seorang cewek yang cantik. Tetapi setelah berpacaran dengan Alip, ia mulai ketularan. Ia juga telah kehilangan bakat menjadi cewek cantik, tetapi mulai menjadi cewek innocent dan suka merengek. (kayak anak kecil aja)

Meski mereka berpacaran, tetapi mereka tetap menjaga jarak di antara mereka. Mereka tidak pernah berpegangan tangan, berpelukan, apalagi berciuman. Tetapi, sangat wajar jika mereka juga ingin berpegangan tangan seperti pasangan lain. Masalahnya adalah bagaimana caranya agar bisa menggandeng tangannya tetapi tidak bersentuhan kulit. Si Alip yang lumayan pintar punya ide, “Eh, kamu kalo pake jilbab kayaknya cantik, lho.” Lho? Kok malah gitu sih? Aduh, biarin, deh, kali ini gue nyerah sama dia. Ckckck.
“Masa?” Anggi tersipu.
“Nggak tau juga sih,” -_- “Tapi kayaknya iya. Soalnya ibuku juga pake jilbab, padahal ia sudah lansia. Tetapi kalo ia pake jilbab, wah~ usianya...”
Dipotong oleh Anggi, “Tambah muda?”
“Nggak, sama aja usianya.” -_- “Tapi bener lho, coba deh kamu pake jilbab.”
“Oke, lah,” Anggi menghela napas, “Tapi... aku nggak punya jilbab.”
“Ya udah kita beli di sana.” Kasihan deh yang jadi cowok, kudu berkorban harta. Itulah mengapa aku tetep jomblo, soalnya nggak punya duit. Hahaha. Never mind. Mereka pun menuju sebuah toko dan membeli jilbab. Memang benar jika Anggi tambah cantik dan anggun ketika memakainya. Tetapi, ada yang aneh. “Eh, kok jadi aneh ya?”
“Apanya yang aneh, aku jadi jelek ya?”
“Enggak, kok, hmmm.... aha, aku tahu!”
“Apa?” Anggi penasaran.
“Lengan bajumu itu pendek, jadi kalo pake jilbab itu kayak gimana~ gitu.”
“Oh, gitu, aku punya sih di rumah yang lengan panjang, tapi kegedean.”
“Nah, itu malah tambah siip. Besok dipake ya?”
“Lho, kok?”
“Udah, pake aja...”
“Iya, deh...” Anggi mengalah. Nah, rencana Alip pun berjalan sukses. Ia sukses membuat Anggi memakai jilbab dan memakai lengan panjang. Tetapi, esoknya...
“Lho kok besar banget bajunya?” yah~ gagal. Walhasil, Alip beliin baju baru buat Anggi. Ckckck. Kasihan...

#SKIP

Liburan kelulusan telah usai. Pendaftaran SMA juga telah usai. Alip masuk ke SMA 1, sedangkan Anggi SMA 2. Entah kenapa mereka tidak suka satu sekolah. Jika mereka rindu, salah satu dari mereka pasti akan menemuinya di SMAnya. Orang umum jika menunggu kekasihnya, pasti hanya duduk di depan gerbang (kayak mo ngemis aja) bersama teman ‘obat nyamuk’nya. Setelah bertemu mereka pun pulang bersama. Tetapi pasangan ini berbeda. Terutama si ceweknya, Anggi. Ada-ada saja tingkahnya ketika ingin bertemu Alip. Contohnya saja, ia ingin pergi ke sebuah pameran, atau ke toserba, atau minta dibonceng dengan sepeda onta, atau yang lebih parah minta di gendong sampai rumahnya. Tetapi, ia belum pernah minta untuk digendong. Ffiuh, Alip bernapas lega. Seorang polos seperti Alip memang tak bisa menolak keinginan orang lain. Tetapi, kali ini berbeda. Di hari rabu, hari paling sibuk bagi Alip, Anggi telah menunggunya di depan; seperti biasa. Pukul 02.45pm Alip pun keluar; break out ketiga. “Ada apa, Anggi? Kau tahu hari ini aku pulang sampai sore, kan?”
“Iya, aku tahu,” jawabnya dengan muka polos.
“Trus ada apa kamu ke sini?” tanya Alip.
“Aku minta antar pulang pake delman.” Alip terjikut, eh, terkejut.
“A... Apah?! Kau bercanda?”
“Tidak, aku serius.”
“Apa ada delman di sekitar sini?” Alip masih kebingungan.
“Aku sudah menyewanya.”

“Hah?????????????????????!!!! Hey penulis! Apa-apaan ini maksudnya?!” Hah? Nggak tau gue. Jangan tanya gue. Tanya tuh sama pacarmu. “Jangan bercanda!!!” Gue nggak bercanda. Dia yang maksa gue buat adegan ini. Katanya dia pengin banget naik delman. Dia juga maksa gue buat nyewain delmannya. “Arkh!!! Gue bisa gilaaaaaa!!!!! Skip aja deh.” Nggak bisa. Ini udah terlanjur gue tulis. “Ah, yaudah deh.” Alip pergi. Yes! Bisa ngerjain dia akhirnya. Ehehehehe... #ketawa_evil 3:)
“Ayo, kita naik delman,” pintanya dengan suara polos.
“Anggi, maaf ya...” memegang pundak Anggi.
“Iya, aku maafkan,” masih berwajah innocent.
“Aku belum selesai... -_- Dengar ya, hari ini kelasku belum selesai. Aku harus belajar untuk masa depanku. Kau tahu, apa jadinya orang jika tak pernah belajar? Tentu saja, ia akan  menjadi budak bagi orang-orang pintar. Mengerti?” ia menjelaskan dengan sabar.
“Eum... lalu delmannya gimana?” masih bermuka polos.
“Aduh, kau ini. Kenapa kau memaksaku naik ini, sih? Kenapa kau tidak belajar saja di perpustakaan umum?”
“Perpustakaan Umum?” matanya membesar, “Ide yang bagus.” Dan ia pun pergi meninggalkan Alip dan delmannya.

“Hhhh~ dasar cewek innocent. Seenaknya saja meninggalkan kuda dan kusirnya di depan sekolahku seperti ini. Kira-kira apa yang dilakukannya di perpus, ya? Ffiuh~” Bel tanda break in pun berbunyi. “Hey, penulis, aku minta tolong ini delmannya di pulangin aja. Kasihan mereka. Kalo bisa kasih duit sewanya.” Dia pun ngacir ke kelas begitu saja.

Sementara itu di perpustakaan...
“Wah~ novelnya bagus... wah~ komiknya juga keren... wah~ apa ini? Wah~” -_-

①④③

Alip cukup terkenal di SMP, ia terkenal karena kecerdasannya. Meskipun ia tidak menempati peringkat pertama paralel ia tetap dikenal karena kepolosannya. Guru-guru juga banyak yang mengenalnya. Apalagi ketika kelulusan, ia pun makin dikenal oleh kalangan adik kelas. Sampai mungkin yang lebih extream ada di antara mereka yang ngefans. -_- Dan itu memang ada. Ada sekelompok adik kelas yang membuat nama klub mereka dengan "ALovers". Apa-apaan ini? Ckckck. Klub ini cukup fanatik, semua kegiatan dan perlakuan Alip pasti diketahui oleh klub ini. Dari mulai hobi, tempat favorit, makanan favorit, status di facebook, bahkan tentang Anggi. Singkat cerita, salah satu dari mereka bertemu dengan Alip di depan sekolahnya.

“Hai, kakak,” sapanya.
“Hmm? Kau siapa?” tanya Alip polos.
“Aku adik kelasmu, kak.”
“Adik kelas? Apa aku punya, ya?”
“Aduh, kakak, ya punya lah, lha ini contohnya.”
“Oh...” mulut Alip membentuk huruf O. “Ada apa, ya?”
“Hehe, nggak ada apa-apa, cuma pengen ketemu aja.”
“Kalo nggak ada apa-apa, yaudah, aku mau pulang.”
“Eh eh, ada kok, kak.”
“Apa?”
“Kakak, kok, sama Mba Anggi kayak cuek banget gitu.”
“Hah? Siapa Anggi?” bertingkah sok nggak kenal.
“Pacar kakak, lah.”
“Oh, Anggi... yayaya..” manggut-manggut, “Lho kok kamu tau?”
“E... emm...” gugup, “Anu, aku tetangganya.”
“Oh... yayaya, kok kamu bisa tau kalo aku cuek sama Anggi?”
“Anu.. emm.. Mba Anggi sering curhat sama aku.”
“Hah? Sejak kapan Anggi suka curhat?”
“Eh, eh, anu, belum lama ini Mba Anggi jadi suka curhat.”
“Oh...” tanpa menaruh rasa curiga, “Trus?”
“Ya... kenapa sih kakak gitu sama Mba Anggi?”
“Apa urusanmu?”
“Aku kan temen curhatnya..”
“Ah, bener juga yah..” bertingkah bodoh, “Ah... aku tau kenapa aku seperti itu..”
“Kenapa?”
“Ehem ehem..” otaknya mulai on lagi, “Gini... aku itu sibuk, tiap hari aku pulang sore terus jadi wajar aja kalo aku ketemu Anggi aku itu cuek, soalnya masih banyak tugas dari guru. Belum lagi kalo ada tambahan/les mapel, seminggu full di sekolah. Kalo SMA nanti kau akan tau betapa pentingnya belajar dan dengan sendirinya kau akan menjadi mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Tapi tenang, aku selalu ngsms dia kok kalo malem. Sebulan sekali pasti ada hari yang libur, nah, di hari itu aku berkunjung ke rumah Anggi. Istilahnya apa ya...” mulai nggak nyambung.
“Apel?” adik kelas menyebut huruf é.
“Bukan apél, tapi apel,” mulai terjadi perdebatan. Sampai akhirnya...
“Kalian sedang apa?” Anggi tiba-tiba muncul di antara mereka. “Alip, dia siapa?”
“Aku tidak tau, yang jelas bukan apel (?)” masih berdebat.
“Tidak bukan apel, tapi apél,” adik kelas itu menimpali.
“Apel itu apa? Apél itu apa?” tanya Anggi polos.
“Sebenarnya aku juga tidak tahu,” dengan polosnya Alip menjawab.
“Kalo gitu, ayo kita pulang.” Alip menyetujuinya, pergi tanpa mengacuhkan adik kelas.
“Hey, urusan kita belum selesai...” teriak adik kelas yang bernama, eh tak tahu namanya.

#SKIP

Seperti katanya, Alip, setiap sebulan sekali ia mengunjungi rumah Anggi. Agar orang tua Anggi tidak curiga, dia punya akal agar bisa masuk ke rumahnya. Seperti mengendap-ngendap ke jendela rumah. Dengan hati-hati ia membuka jendelanya dan masuk seperti pencuri. Tetapi...

“Hey, siapa kamu?!”
“Aduh, gawat, ini kamar bapaknya...” dan akhirnya ia pulang dengan babak telur. Haduh, beruntung itu cuma angan-angan Alip ketika pertama kali ingin ke rumah Anggi. Dan kali ini ia sudah punya cara yang tepat. Ia akan menjadi berpura-pura belajar kelompok. Haduh, pasaran banget, ya? Dan tentu saja, Si ‘Obat Nyamuk’ alias temen Anggi pun diajak, tak lupa teman sejatinya, Abadi dan Anwar juga ikut berpartisipasi. Setelah berbasa-basi dengan orang tuanya sebentar dan melakukan aksi belajar kelompok selama lima belas menit (cepet banget belajarnya? :v), mereka pun pergi jalan-jalan.
“Eh, kita mau kemana?” tanya Abadi.
“Ke alun-alun,” jawab Alip.
“Ngapain? Mending kita ke toserba,” timpal Anwar.
“Aku setuju. Aku minta beliin baju,” kini Anggi ikut bicara.
“Hah? Yang benar saja? Bukankah kemarin aku sudah membelikannya?”
“Aku mau lagi,” merengek.
“Anggi... dengar, ya. Kau harus belajar berhemat uang. Kau juga harus belajar mengontrol kebutuhan apa yang harus kau penuhi dulu. Kau harus memenuhi kebutuhan primermu, seperti mengisi perut dan otak, barulah kau memenuhi kebutuhan sekunder, seperti kalung atau baju baru. Kau juga harus belajar mandiri, usahakan kau membeli dengan uangmu sendiri. Ingat, kau sudah SMA. Kau mengerti, kan?” Alip menjelaskannya seperti menjelaskan pada anak kecil. Anggi hanya mengangguk. “Nah, gitu dong. Eh, kenapa dengan kalian semua? Kenapa kalian memandangku seperti itu?” Ternyata dari tadi teman-temannya memperhatikan Alip berbicara. Mereka terlihat seperti tidak percaya, mulut terbuka, mata membesar, menyimpan tanda tanya besar di kepalanya.

“Kesambet apa loe? Kayak guru SD aja njelasinnya,” Anwar angkat barbel, eh, bicara.
“Hush, bukan kayak guru SD, kasar sekali loe, yang bener kayak guru TK,” Abadi nyeletuk.
“Yak? Sama aja, dodol..” Anwar balas nyeletuk.
“Ngimpi apa loe, Lip? Lagak loe kayak orang dewasa aja, padahal badan loe juga nggak dewasa-dewasa. Masih gitu-gitu~ aja,” sambil nunjuk badan Alip yang kurus. Sebenarnya sih tidak terlalu kurus, seukuran orang-orang umum lah. Tetapi di antara mereka berlima dia lah yang paling pendek dan kurus. Anwar yang berbadan atletis, dan Abadi yang setinggi tiang listrik, si ‘Obat Nyamuk’ yang gemuk, dan Anggi yang biasa-biasa saja.
“Biasa, lah, orang lagi nggak punya duit biasanya otakku jadi konek. Atau kalo nggak lagi laper, uh~ soal matematika langsung selesai semua,” jawab Alip.
“Emang berapa soalnya?” tanya Abadi.
“Cuma satu doang,” jawab Alip polos.
“Soal apaan cuma satu?” timpal Abadi.
“Ada lah pokoknya.”
“Eh, ngomong-ngomong laper, gue jadi laper, nih,” Anwar nyeletuk.
“Iya, gue juga,” Abadi ketularan laper (emang penyakit? :v).
“Aku juga lapar, Al,” Anggi juga tertular. Al adalah panggilan dari Anggi untuk Alip.
“Haduh, aku juga lapar. Kita makan saja yuk? Aku yang traktir, deh.”
“Tumben loe, Lip, mau nraktir kita semua,” Anwar menimpal.
“Udah, anggep aja ini sebagai rasa terimakasihku untuk teman-teman baikku.”
“Kita makan apa?” tanya Anggi.
“Nah, tuh ada espel, yuk?” bergegas mereka menuju Es Pelangi. “Eh, tunggu sebentar.”
“Apaan lagi sih, Lip?” Anwar protes.
“Nggak pa pa. Eh, penulis, mau aku traktir, nggak? Kesempatan cuma sekali, lho.” Tumben loe? Hehe, boleh juga. Gue pesen satu sama batagor satu. Laper banget, nih. 1419 kata gue tulis sampe kelaperan. Oke, pembaca, gue makan dulu bentar. Kkk~ :v

#SKIP ①④③ turn on the song...
#nowplaying Budi_123456
Ada sebuah cerita tentang aku dan dia. Jumpa pertamaku dengannya di satu sore yang cerah. Singkat kata singkat cerita ku berjalan dengannya. Namun apa yang aku rasa, mungkinkah ini cinta?
*) Dan aku, kubayangkan dirimu mulai ada rindu. Duniaku terhenti karna kamu mungkin bisa jadi milikku. Smoga lagu cinta ini bersarang tepat di hatimu...
1 kali ku bertemu
2-lam sudah rasaku
3 kata yang kutahu, aku cinta padamu
4 malam kumenunggu jawaban cinta darimu
5 tanda yang kau beri
6-paknya kau cinta padaku #back to *) ♬♫♬♫♬♫♬

Lagu pagi untuk hari libur semester pertama Alip. Ia masih terbaring di tempat tidurnya. Padahal matahari sudah tinggi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.28am. Eh tunggu, seharusnya sudah ada yang membangunkannya dari tadi pagi dengan sapu. (iuh, sungguh tragis :v) Ah, ternyata ibu dan bapaknya sedang pergi lagi. Kali ini acaranya ke rumah nenek. Neneknya juga kebetulan di luar kota. Lupakan soal kepergian mereka, kembali ke Alip. Music box-nya masih berbunyi, tetapi Alip seperti orang mati. Apakah dia sedang bermimpi, atau sedang bernyanyi? Atau mungkin lagi patah hati? Ada apa dengan Alip dan Anggi? Maksudku, ada apa dengan tanganku ini? Kenapa kalimatnya semua berakhir ‘i’? Aduh, mungkin penyakit gilaku kambuh lagi. (ini penulis lagi bicara sendiri :v udah gila kali.. hihihi)

Sudah empat puluh tiga menit dia belum juga bangun. Apakah dia pingsan atau sakit? Suara music box sudah berhenti. Penulis mencoba untuk memeriksa apa yang terjadi pada tokohnya, Alip. Tetapi kemudian terdengar dengkuran dari Alip. Sial, ternyata dia masih tidur. He fooled me! -_- Woy! Get up! There is a dog! :p

“Hah?! Mana, mana?” Alip bangun dengan mata merah, rambut acak-acakan sambil melihat sekelilingnya. “Mana anjingnya?” dia tampak seperti orang bodoh. “Ah, sial, gue baru saja ditipu oleh penulis. Damn!” dia pun tertidur lagi. Hhh~ lupakan dia. Lebih baik kita intip Anggi, #PLAKK, eh, maksudnya skip to Anggi’s activities. -_-

Anggi tampak serius di dapur. Di sampingnya terdapat bahan makanan yang akan di masak. Ia sedang membaca sebuah buku resep makanan. Beberapa detik ia menaruhnya kembali. Cepat sekali bacanya, ya. Mungkin ia adalah koki yang handal. Hmm, pasti masakannya enak. Tetapi ia tampak kebingungan. Ternyata...

“Eh, nyalain kompornya, sih, gimana caranya ya? Kok di buku resep nggak ada?” Ya ampun. Ternyata menyalakan kompor saja tidak tahu. Haduh, nangis batin gue. T^T Eh, Anggi, itu kan ada knopnya, tinggal di puter aja. Gitu aja nggak bisa. Haduh, haduh... “Ah iya, kau benar.” Ia pun memutar knop kompor, tetapi belum bisa menyala. “Lho, kok, nggak bisa nyala, ya?” Yak, tentu aja nggak bisa, gasnya aja belum dipasang. Haduh, bisa gila nih penulisnya. T.T

Singkat kata masakannya sudah matang, walaupun bisa dikatakan kalau masakan itu gosong. Ia pun mencicipinya, “Hmmm.... Hmm? Sepertinya ada yang salah pada masakanku. Ah iya, aku belum memberi bumbunya. Ah sial.” Yah~ begitulah yang ia lakukan akhir-akhir ini. Padahal sebelumnya ia tak pernah memasak. Yang memasak selalu ibunya. Tetapi semenjak Alip bilang untuk mandiri, ia mencoba memasak sendiri. Dan hasilnya lumayan. Ia berhasil memasak mie kuah, mie goreng, menanak nasi, memasak tempe. -_- Tadi ia sedang belajar membuat sup, tetapi belum berhasil. Ia pun mengulangnya dari awal. Ckckck. Hebat.

Ia juga belajar mencuci baju. Meskipun di rumahnya sudah ada mesin cuci, tetapi ia ingin belajar mencuci dengan tangan. Dan hasilnya, bajunya banyak yang masih bernoda. Tak apa, awal yang bagus untuk perkembangan selanjutnya.

Handphone-nya berdering. Ada panggilan masuk dari Alip.
“Halo, Al, ada apa?”
“Halo, Anggi, kau sedang apa?” nadanya seperti orang baru bangun tidur.
“Aku sedang memasak, kenapa?”
“Tidak, aku cuma mau tanya. Gimana hasil rapormu?”
“Hmm... tidak begitu bagus, aku dapat IP 3,24.”
“Hhhh~ aku juga tidak begitu bagus. Hanya 3,34. sial, padahal aku sudah belajar.”
“Wah, hanya selisih 0,10. Tetapi masih tinggi punyamu.”
“Hmm... aku ingin bertemu denganmu.”
“Aku juga.”
“Kalau begitu, kapan kau ada waktu?”
“Hmm... nanti pukul 09.00am aku bisa.”
“Hah? Yang benar saja? Sekarang sudah pukul 09.36am, Anggi...”
“Ah, kok jam di sini pukul 08.47am ya?”
“Jamnya mati kali...” -_-
“Ah... iya, aku belum beli baterai yang baru.” #GUBRAKK -_-
“Haduh jan~ baiklah, besok minggu saja setelah car free day.”
“Okey. Sampai jumpa besok.”
“Sampai jumpa besok.” #Klik. Alip menutup teleponnya. Anggi masih meneruskan kegiatan memasaknya. Alip kembali ke mimpinya. Music box-nya kembali berdendang. Kali ini laguZifilia – Aishiteru 2.

Bila cinta tak terbalas, janji hanya tinggal janji, sakit hati yang kurasa. Sekian lama kumenunggu saat-saat bersamamu, dan kini aku kembali.
*)Siksa menanggung rindu. Semua sia-sia.
Aishiteru, bukti cinta untukmu. Namun yang kuberi tak pernah kau hargai.
Demi cinta kita kukorbankan sgalanya, semua yang kita lewati slalu ada dalam ingatan...
Cinta memang penuh misteri, tiada yang tahu akhirnya, seperti yang aku rasakan. Slalu ingin didekatmu dan buatmu tersenyum. Namun tangis yang kudapat. Back to *). Aishiteru.........
Jiwa ini tlah pergi bersama semua kenangan, hampa hidup didalam luka.
Aishiteru, bukti cinta untukmu. Namun yang kuberi tak pernah kau hargai.
Demi cinta kita kukorbankan sgalanya, semua yang kita lewati slalu ada dalam ingatan... Aishiteru....

①④③

Minggu pagi pukul 08.53am. Anggi duduk di bangku sambil meminum es pelangi. Alip berada di hadapannya. Mereka diam tanpa kata. Es pelangi mereka hampir habis. Alip melirik jam tangannya, sudah pukul 09.00am.
“Baiklah, bisa kita mulai pertemuan pagi ini?” berbicara formal.
“Baiklah, silahkan.” Ekspresi serius.
“Baiklah, puji syukur kehadlirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah.. bla bla bla...” lima menit kemudian pidato pembukaannya telah selesai. “Ehem, meninjau dari hasil rapor kemarin, sepertinya tidak sesuai dengan apa yang saya atau Anda harapkan. Untuk itu, mari kita cari tahu apa penyebab dari masalah ini.”

“Berdasarkan data yang saya peroleh selama dua belas jam tiga puluh empat menit di tempat tidur, saya mempunyai beberapa hipotesis tentang penyebab masalah ini. Di antaranya yaitu : tidak belajar, banyak tidur, menonton sinetron, belajar memasak, bla bla bla,” kata Anggi panjang lebar.

“Ah, sepertinya semua itu bukan menjadi penyebabnya. Tetapi ada beberapa yang mungkin bisa dijadikan tersangka (?), seperti : tidak belajar, smsan, dan pacaran. Dari ketiga itu saling berkaitan satu sama lain. Orang pacaran pasti tidak lepas dari SMSan, dan karena SMSan itu lah sehingga Anda dan/atau saya menjadi tidak serius belajar. Bagaimana menurut Anda?”

“Saya setuju,” Anggi manggut-manggut, “Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk memenjarakan para tersangka itu?”
“Hmm... aku berat untuk mengatakannya,” mulai berbicara informal, “Mungkin kau juga sudah mengetahuinya.”
“Ya, kamu benar,” mulai terlihat tidak bersemangat, “Tadi malam aku sudah memikirkan ini, kurasa ini adalah satu-satunya cara.”
“Ya, aku juga berpikiran begitu.”
“Hmm... memangnya kenapa kalau nilai kita jelek?” mulai innocent.
“Jika kita tidak bisa meningkatkan nilai kita di semester berikutnya, atau bahkan hingga semester enam nilai kita naik-turun naik-turun, kita akan kesulitan masuk PTN. Dan aku tak mau itu. Itu malah akan mengecewakan bapak dan ibuku.”
“Iya, orang tuaku pasti kecewa jika aku tidak masuk PTN. Aku ingin masuk ke UI Jakarta.”
“Aku ingin masuk ke UGM dan mengambil jurusan hukum, aku ingin bapak bahagia.”
“Aku ingin masuk jurusan fisika agar ibuku senang,” mereka diam sesaat.
“Anggi, sepertinya tak ada pilihan lain, masing-masing dari kita tak ingin mengecewakan orang tua kita. Maka...,” Alip menelan ludah, “lebih baik kita akhiri hubungan kita.”
“Ya.. kau benar, lagi pula pacaran dalam Islam itu dilarang,” matanya mulai basah.
“Jadi... siapa yang akan memutuskan hubungan ini? Kau atau aku?” tanya Alip hati-hati.

“Aku...” menundukkan wajah, “Aku... tak bisa melakukannya. Kau terlalu baik padaku. Kau membuatku berubah menjadi cewek yang sesungguhnya. Rupanya kau juga mengajariku tentang agama, meski baru kusadari hari ini,” setetes air mata jatuh di pipinya, “Dulu ketika kau pertama kali menembakku di forum itu, kau tahu kenapa aku menerimamu?”
“Aku... sebenarnya sampai saat ini aku tidak mengetahuinya...”

Anggi mengusap pipinya, “Dalam mimpi aku bertemu dengan seseorang yang berwajah polos, tatapannya sendu, aku jatuh cinta padanya. Dan esok harinya, kau muncul, kau seperti pangeran yang ada di mimpiku sehingga aku jatuh cinta padamu.”
#Snif...snif... T.T #slrrrrttt, Huaa~ #snif..snif
“Eh, siapa yang nangis?”
“Aduh, penulisnya malah nangis deh... payah...” huaa~ sungguh mengharukan. “Haduh, padahal biasa aja, tuh, ckckck, lanjutin, Anggi.”
“Apa? Bagianku sudah selesai, sekarang giliranmu.”

“Ah, iya... hehe, aku lupa naskahnya.” Alip menarik napas. “Aku sebenarnya tidak tahu alasan kenapa aku menyukaimu. Ketika pertama melihatmu, jiwaku bergetar. Saat itu aku tidak tahu perasaan apa itu. Ternyata itu adalah rasa cinta pada seseorang.”
“Jika sekarang kita putus, mungkin ini terlalu berat bagi kita. Lebih baik, biarkan saja waktu yang memutuskan hubungan kita. Sebaiknya kita juga tidak terlalu sering SMSan.”
“Iya, maafkan aku, Anggi.”
“Iya, aku juga minta maaf. Terima kasih atas pelajaran yang sudah kau ajarkan padaku selama ini,” air matanya pun mulai menetes lagi.
“Jangan menangis, kau harus menjadi wanita yang kuat, jangan cengeng lagi, ya?”
“Iya, aku janji,” ia mengusap pipinya.
“Ayo, habiskan es pelanginya, tanggung tinggal sedikit lagi. Setelah itu, aku antar kau pulang.”
“Oke.” Penulis tak bisa berkata apa-apa lagi. T.T #skip to next event.

#SKIP

Beberapa tahun telah berlalu. Alip telah menempuh tiga semester kuliahnya di UGM di fakultas hukum filsafat. Ia ingat saat dulu ia dan Anggi mengakhiri hubungannya, ternyata itu cara yang sangat efektif. Meski pada awal semester dua di SMA ia tidak bisa berkonsentrasi belajar. Tetapi tugas-tugas dari guru membuatnya bisa sedikit melupakan Anggi. Semester dua pun ia mulai mengikuti organisasi keagamaan : Rohis. Ia ingin tetap ada pengetahuan tentang agama karena pada semester dua tidak ada mapel Pendidikan Agama Islam. Itu adalah pengaruh dari Sistem Kredit Semester yang mulai diterapkan di SMA-SMA negeri. Ia juga lulus dengan IPK yang mengagumkan, 3.86, dan beruntungnya ia diterima di Universitas Gadjah Mada melalui jalur undangan. Bayangkan! Betapa bangga dan senangnya Ayah Alip ketika itu. Di kampus Alip juga mengikuti organisasi keagamaan di sana. Selain itu, ia tetap meneruskan latihan silat yang ada di sana meski hanya seminggu sekali. Ia ingin mencapai sabuk biru seperti harapan Seniornya ketika pengukuhan dulu. “Saya ingin salah satu di antara kalian semua ada yang bisa mencapai sabuk biru,” kata Seniornya dulu. Dan Alip ingin mencobanya.

Bagaimana dengan nasib Anggi? Saat perpisahan dengan Alip waktu itu, ia ingin masuk ke Universitas Indonesia, Jakarta. Dan sekarang ia juga telah menempuh semester tiga meski tidak di UI, tetapi di Universitas Negeri Yogyakarta. Ia juga masuk tanpa tes di sana. IPK lulusnya juga lumayan tinggi, 3.90, hampir mendekati sempurna. Ia juga memilih jurusan cabang fisika di UNY. Suatu hari nanti ia ingin menjadi guru SMP mapel fisika meskipun ibunya telah tiada. Ia berjanji akan menjadi guru yang baik.

①④③

Singkat kata singkat cerita... hehe maaf, pembaca, waktu untuk menulis cerpen ini sangat terbatas, terpaksa saya skip berkali-kali. Masa kuliah Anggi telah usai. Ia juga mendapat gelar S1. Saat ini ia mengajar di SMP tempat ia dan Alip bertemu. Sesuai harapannya, ia telah mencoba mewujudkan apa yang ibunya harapkan. Sampai saat ini pun ia belum menemukan jodoh yang pas baginya meskipun ayahnya berkali-kali menyuruhnya untuk menikah. Tetapi Anggi masih belum berkeinginan untuk menikah. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.

Tak terasa ia sudah mengajar di SMPnya hingga akhir tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di kota kelahirannya pasti diadakan “Festival Budaya” untuk merayakan hari jadi kotanya. Ia berniat untuk menonton karnaval itu karena selama lima tahun ia tidak pernah menonton karnaval itu. Ya, lima tahun ia menuntut ilmu di UNY. Beruntung ia diterima mengajar di kota kelahirannya. Pada hari yang meriah itu ia berada di sela-sela penonton yang lain. Meski udara panas dan pengap, ia tetap menikmati parade budaya itu. Ia merekamnya dari awal sampai akhir. Saat sedang merekam acara yang meriah itu, ada seseorang yang menepuk bahunya.

“Assalamu’alaikum, Anggi? Masih kenal sama aku?” sapa orang itu.
“Wa’alaikum salam,” jawabnya. Ia mencoba mengingat-ingat wajah lelaki itu. “Maaf, Anda siapa, ya?””
“Astaghfirullah al ‘adzim. Coba ingat-ingat, aku adalah orang yang memberi tebakan 143 padamu dan kau menjawabnya dengan 486.”
“Kau Alip?” ia masih tak percaya. Ia menganggukkan kepala. “Ya ampun, kau berubah sekali sekarang, dulu rambutmu tak panjang, sekarang rambutmu panjang sampai bahu.”
“Kau juga telah berubah, tadinya aku kira itu bukan dirimu, tapi setelah kuamati ternyata itu kau. Kau jadi semakin cantik hingga membuatku lupa,” canda Alip.
“Ah, bisa aja kamu,” Anggi tersipu. Kau juga bertambah tampan dan alim, batinnya.
“Apa kabarmu?”
“Baik-baik saja. dirimu?”
“Alhamdulillah aku juga baik-baik saja. ohya, kudengar kau menjadi guru di SMP kita dulu, benarkah itu?”
“Iya, kenapa sih?”
“Wah~ selamat ya...”
“Kau sendiri bekerja di mana?”
“Hmm... aku belum bekerja, aku masih di pondok pesantren, bulan ini aku ijin pulang ke kampung setelah dua tahun di sana, kangen ibu bapak, hehe..”
“Pantas saja kau jadi alim begitu. Sampai kapan kau mau mondok?”
“Rencananya tahun depan aku sudah cukup mengajinya dan kemudian menikah.”
“Wah~ selamat, ya. Siapa calonnya?”
“Aku belum tahu. Eh, apa kau sudah menikah?”
“Jangan bercanda, tentu saja belum.”
“Oh begitu...” mereka diam. “Oh iya, aku punya sesuatu untukmu, sebentar...” ia  mengambil sesuatu di sakunya dan memberikannya pada Anggi.
“Apa ini?” Sebuah kotak kecil berwarna merah berada di tangannya.
“Buka saja.” Anggi pun membukanya. Ternyata sebuah cincin.
“Apa maksudnya?”
“Ehem, sebenarnya setelah aku selesai mondok aku ingin melamarmu, tetapi sebelum itu aku ingin memberikan cincin ini padamu agar tidak ada orang lain yang mencoba merebut hatimu sebelum aku.”
“Eum, aku tak tahu apa yang harus kukatakan.”
“Kumohon, bersediakah kau menunggu satu tahun lagi?” Anggi hanya diam. Ia mengalihkan pandangannya pada festival itu. “Anggi?” Akhirnya Anggi pun mengangguk pelan. Alip tersenyum. “Terima kasih, Anggi, oh iya aku harus pergi sekarang, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” ia menjawab pelan sambil melihat tubuh Alip hilang ditelan kerumunan orang-orang yang menonton pawai. Bibirnya tersenyum kecil, kemudian memakai cincin itu di jari manisnya.

“Alip~ bangun!” sebuah sabetan kain mendarat di kakinya, “Tuh udah mau maghrib... cepetan mandi sanah! Udah gedhe masih males-malesan!” Ternyata ibunya sudah pulang. Lho, kok? Padahal ia baru memejamkan matanya tadi pagi. Tunggu, tadi pagi? Yak! Ia lupa belum sholat dzuhur! Astaghfirullah al ‘adzim, batinnya. Tetapi ia tambah bingung lagi.
“Kok ibu cepet banget pulangnya? Bukannya tadi pagi baru pergi?”
“Ibu memang pergi, tapi nggak jadi ke luar kota, jalanan macet banget.”
“Yah!” aduh, padahal baru nikmatin sehari freedomnya, batinnya. T.T
“Udah sanah mandi, trus sholat!” perintah ibunya.
“Iya, deh.” Ternyata, pertemuan dengan Anggi hanya sebuah MIMPI!
#END of STORY

Catatan penulis :
Huah~ akhirnya selesai juga cerpen ini. Huh. Sepertinya ini adalah cerpen pertamaku yang kugarap selama tiga hari, terpanjang, dan ter’GaJe’. Gila. 6432 kata, bro! Bayangpun! -_-
Cerita ini diambil dari mimpiku pada tanggal 27desember2013. Cerita ini mungkin hanya 40% dari mimpiku saja dan latarnya aku buat sendiri. Ending juga aku buat sendiri.
Oh iya, mengapa aku memulai cerita ini dengan pengukuhan silat? Padahal di akhir cerita tak banyak diceritakan? Hari itu aku tak bisa melepaskan rasa pegal di kakiku karena pengukuhan. Dan aku juga teringat sebuah pesan dari senior seperti yang sudah tertulis di cerita, “Saya ingin salah satu di antara kalian semua ada yang bisa sampai sabuk biru.” Aku pikir aku tak akan bisa melakukannya tetapi aku ingin mencapai sabuk biru walau kemungkinannya sangat kecil. Sehingga aku menuliskan harapanku di cerita ini.
Kemudian kenapa aku memilih tokoh Alip masuk ke UGM dan memilih jurusan hukum? Seperti yang telah disebutkan di cerita kalau aku ingin membahagiakan ayahku, meski saat ini aku sama sekali tidak tertarik pada dunia hukum. Sehingga aku menuliskan harapanku di cerita ini. Pokoknya sebagian besar yang dilakukan Alip adalah harapanku.
Tentang Anggi, alasan mengapa aku menjadikannya guru fisika di akhir cerita adalah harapanku sendiri pada mapel fisika. Dulu ketika SMP aku sangat menyukainya, tetapi ketika SMA aku sama sekali tak memahaminya. Sehingga aku menuliskannya dengan harapan agar aku bisa memahami fisika di SMA semudah saat di SMP. Aamiin.
Satu lagi. Aku salut dengan tokoh Alip di akhir cerita. Kenapa? Karena ia tidak banyak protes hingga akhir. Hahaha. Aduh, aku memang benar-benar gila rupanya.
Whatever,
HAPPY NEW YEAR 2014! ^^
HAPPY 78th ANNIVERSARY my sweet country KEBUMEN! :*
And for her (L), I’ll be waiting for you, as long as I can.

“Kritik dan Saran untuk penulis diperlukan” 
THANK YOU.
Special thanks to : Allah, all my brothers and sister, Pratama Nugraha Purwiyatna, PHPers ._.v, Wahyu Abadi, Indriana Hikmatul Maftukhah, my father, Ikatan Pencak Silat Indonesia; Persaudaraan Siteki Teratai, and SMPN2 of Kebumen.

Sabtu, Juli 27, 2013

Contoh Cerpen | Waktu Masih Panjang


Waktu Masih Panjang

A
ku masih menatap langit – langit kamarku. Tak lama ku pejamkan mataku sejenak. Rasa lelah membuatku mengantuk. Kegiatan sekolah tadi memang melelahkan. Menguras tenagaku yang memang sudah sangat lelah. Tak apa, toh akhirnya aku bisa tiduran di rumahku sendiri. Melepas lelahku.

“Laras…” tiba – tiba ku dengar suara seseorang memanggilku.
“Dalem...” ku jawab panggilan itu dengan sopan.
“Coba tolong masukkan benang ini ke dalam lubang jarum. Mata nenek sudah tua. Tak bisa melihat lubangnya.”
“Ke sini sebentar, cu, nenek butuh bantuanmu,” pintanya. Segera ku hampiri nenekku itu. Rupanya dia sedang menyulam sebuah kain. Nenekku memang suka menyulam.
“Ada apa, nek?” tanyaku saat menghampiri nenek di teras bagian depan. Nenek sedang duduk di kursi goyangnya.
“Baiklah,” jawabku. Segera ku ambil benang itu, dengan mudah ku masukkan benang ke lubang jarum yang kecil itu. “Sudah, nek.”
“Terima kasih, ya. Kau memang cucu nenek yang baik,” dia tersenyum sambil sesekali terkekeh.
“Iya, sama – sama, nek.”
“Kok belum ganti baju? Ganti baju dulu sana,” dia mengerutkan kening.
“Oh, iya. Laras lupa, nek. Ya sudah, Laras ganti baju dulu, ya?”
“Iya sana. Habis itu sholat dzuhur,” jelasnya.

Ku buka mataku. Aku rupanya tertidur cukup lama. Jam dinding sudah menunjuk pukul 03.50 pm. Berarti aku tidur siang selama dua jam. Aku masih mengenakan mukenaku. Mungkin karena kelelahan, aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur selesai sholat.
Tiba – tiba, aku merasa perutku bergetar, mengeluarkan suara aneh. Sedikit ku pegangi perutku yang sedang kelaparan ini. Aku memang belum makan sejak pulang sekolah tadi. Bergegas ku copot mukena yang ku pakai. Melipatnya dengan sajadahku. Ku langkahkan kaki menuju ruang makan.
“Ya ampun, nasinya abis. Aduh… nasib, nasib. Ah, lebih baik aku masak nasi lagi saja,” dengan terpaksa aku pun memasak nasi lagi.

*~*~*

Kokok ayam bersahut – sahutan membangunkanku. Tak lama, suara adzan shubuh pun mulai bergema. Segera ku beranjak dari tempat tidurku mengambil air wudlu. Begitu sejuk menerpa wajahku ini. Setelah itu, aku pun sholat shubuh dengan khusyuk.
Matahari masih malu – malu di ufuk timur ketika aku sarapan. Hari ini aku masuk sekolah lagi, meski secara teknis masa sekolahku di SMA Negeri 1 Kebumen telah habis. Ya, aku telah menempuh ujian nasional. Tetapi, mengapa aku masih harus berangkat?
Meski aku kadang – kadang merasa jenuh di sekolah karena tidak ada pekerjaan apa pun, hanya duduk – duduk di kursi panjang depan kelas dan berbincang – bincang dengan temanku, aku tetap merasa senang berangkat sekolah. Aku masih belum mengetahui apa yang membuatku seperti itu, yang jelas setiap bertemu dengannya aku merasa sangat bahagia.
Tak terasa aku telah melahap habis semua makananku. Meski hanya berlauk tempe dan sayur asem buatanku sendiri, aku tetap menerima apa adanya. Toh sama saja kenyang.
“Nek, Kek, Laras mau berangkat sekolah.”
“Ah, iya iya, cucu nenek memang anak yang rajin,” katanya sambil tersenyum, “jadilah anak yang pandai, ya?”
“Iya, nek,” ku cium tangan nenek, nenek membelai kepalaku yang tertutup kerudung dengan penuh kasih sayang. Tak lupa kakekku. Beliau juga membelai kepalaku.
“Assalamu’alaikum,” ku lambaikan tangan pada kakek nenekku. Mereka membalasnya.
“Wa’alaikum salam, hati – hati di jalan,” nenek mewanti – wanti.

Kelas masih sepi, hanya beberapa orang saja yang baru berangkat. Itu pun adik kelasku. Ku langkahkan kaki menuju kelasku. Ku rasa tak ada orang di dalam. Dengan langkah santai aku memasaki kelas.
Deg, jantungku berdetak kencang. Ternyata sudah ada orang di dalam. Dia masih menundukkan wajahnya, mungkin sedang bermain handphone-nya atau apa lah. Sejenak aku berdiri mematung di pintu kelas. Hatiku bimbang antara masuk atau menunggu temanku yang lain untuk menemaniku masuk karena ada cowo yang telah duduk di bangku kelas.
Dia mendongakkan kepala, mengangkat wajahnya. Ah, dia sangat tampan. Segera kutepis pikiranku itu. Mata kami bertemu. Ada sesuatu yang memaksaku menyunggingkan senyum padanya. Dan dia pun membalas senyumku. Ya ampun, aku harus apa sekarang? Dia sangat manis, batinku.
Dengan reflek ku balikkan tubuhku membelakangi orang itu. Ku putuskan untuk menunggu temanku di bangku depan kelas saja. Baru saja satu langkah, tiba – tiba, “Kenapa gak taruh tasnya dulu di bangku?” dia sukses membuatku kaget.
“E… e… iya juga yah,” aku terlihat sangat bodoh saat itu, mengapa juga aku harus menjawab pertanyaan anak itu? Ah, lupakan. Ku lirik dari ekor mataku, dia tersenyum geli melihat kelakuanku yang kebingungan tadi, ku rasa. “Ngapain ngetawain? Ada yang lucu?” tanyaku sewot.
“Enggak, kok, orang lagi baca komik, wle~,” dia menjulurkan lidahnya. Sekali lagi aku merasa salah tingkah. Aduh, dasar bodoh! Sok tau lagi! dasar bodoh! Aku memaki diriku sendiri.

Ku tersadar dari lamunanku tadi. Yah, itulah awal aku mengenal dirinya. Dan kini, entah mengapa hatiku merasa ‘menyukai’ dirinya.  Ah, tak mungkin. Dia tak mungkin mencintaiku. Apalagi mencintaiku, memberi perhatian saja dia tak pernah. Uhh, dia memang cuek. Sangat cuek.

“Hai, Laras,” sapa seorang cowo menghampiri mejaku.
“Hai juga,” jawabku acuh.
“Kok, sama Mas Iwan kayak gitu jawabnya?” dia mulai melancarkan jurus ‘lebai’nya.
“Ihh, emang harus gimana?” tanyaku masih acuh.
“Ya… gimana, yah, aku juga ga’ tau.”
“Makanya cari tau dulu.”
“Di mana carinya?”
“Di kolong meja siapa tau ada, sanah cari dulu,” aku menahan tawa.
“Hah?” Iwan mulai bertingkah konyol.

*~*~*

Suasana di sini begitu sejuk. Ada sebuah bangku panjang di sebelah kiriku. Aku pun duduk. Pemandangannya indah sekali. Ada taman bunga yang berwarna – warni di depan mataku. Aku melihat sekeliling. Sebenarnya, di mana aku ini?, gumamku.
Aku menoleh ke depan. Di depanku telah ada setangkai bunga melati yang indah. Aku kaget. Ternyata ada tangan yang memegang bunga itu dan menyodorkannya padaku. Aku mulai melihat wajah orang itu. Dia tersenyum. Deg, jantungku serasa berhenti berdetak. Apa aku tak salah lihat? Apa yang dilakukan Dimas di sini? Kenapa dia memengang bunga melati itu dan memberikannya padaku. Beribu pertanyaan berkecamuk di otakku.
“Laras, maukah kau menerima cintaku?” pinta Dimas sambil menyodorkan bunga padaku. Bagai disambar petir tenggorokanku terasa tercekat. Kaget bukan kepalang. Mendadak lidahku kelu. Tak bisa mengeluarkan kata - kata. Jantungku berdebar – debar. Pikiranku sungguh kacau waktu itu. “Laras?” dia memanggilku dengan sangat lembut.
“I… Iya, ada apa?” jawabku gugup.
“Kenapa diam saja? Terimalah bungaku ini,” pintanya. Kali ini aku mulai berkeringat. Rasa gugup, senang, dan bingung berkumpul jadi satu.
Aku mulai menggerakkan tanganku untuk mengambil bunga itu. Tiba – tiba tubuhku tergoncang – goncang. Seperti gempa. Mendadak semua menjadi gelap. Telingaku mulai menangkap suara orang memanggilku.
“Laras? Bangun, Laras, hari sudah siang,” kata suara itu. Dia menggoncang – goncangkan tubuhku. Ku buka mataku perlahan. Orang itu mulai terlihat jelas di mataku.
“Ah, nenek. Kenapa membangunkan Laras? Tadi mimpinya lagi seru – serunya,” aku sedikit cemberut.
“Kau ini bagaimana? Sekarang sudah setengah tujuh. Ayo bangun, mandi, sarapan.”
“Hah? Yang bener, nek?! Masya allah…” aku langsung melompat dari tidurku.

*~*~*

Mimpi itu kembali mampir di pikiranku. Ah, aku terlalu berharap padanya waktu itu. Tetapi begitu memasuki semester dua, aku sudah sibuk dengan persiapan ujian nasional. Selama waktu itu pula aku tidak memikirkan Dimas lagi. Aku mulai menyukai pelajaran akhir – akhir ini, juga membaca buku. Aku lebih memikirkan cita – citaku kelak. Menjadi seorang dokter. Aku ingin membantu menyembuhkan orang yang sakit. Jika mereka tak memiliki uang,
Sekolah sudah mulai sepi. Hanya beberapa orang yang masih sibuk dengan urusannya sendiri. Banyak dari mereka yang sibuk di kantin. Ya, kantin memang sangat ramai dan cocok dijadikan tempat untuk mengobrol. Aku tidak tertarik dengan mereka. Aku tidak biasa menghabiskan waktu dengan berbicara yang tidak berguna. Teman sebangkuku juga sudah pulang. Tadi dia sempat mengajakku pulang bersama. Tapi aku menolaknya. Aku ingin membaca buku di perpustakaan SMA-ku ini.
Langkah kakiku semakin mendekati perpustakaan. Bergegas ku lepas sepatuku ketika aku sudah tiba di teras perpustakaan. Ku letakkan sepatuku pada rak di depan perpustakaan. Sempat ku baca sebuah slogan di atas rak sepatu yang berkali – kali aku baca ketika aku meletakkan sepatuku sampai – sampai aku menghafalnya. Slogan itu berbunyi, “Alas Kaki Harap Dilepas.” Itu wajar, karena perpustakaannya berlantai karpet.
Aku masuk. Menyapa penjaga perpustakaan, “Assalamu’alaikum, Pak Mardi,” sapaku lembut dan tidak terlalu keras.
“Wa’alaikum salam, Laras, gimana ujiannya kemarin?” Pak Mardi menyodorkan buku kunjungan padaku.
“Alhamdulillah, pak, saya bisa mengerjakannya dengan mudah. Semoga saja hasilnya sesuai harapan,” jawabku sambil menulis namaku di buku daftar kunjungan. Hari ini tak banyak yang berkunjung ke perpustakaan.
“Aamiin. Rencananya mau kuliah di mana?”
“Uhm, saya gak tau, pak, tergantung orang biaya orang tua saya. Saya, sih, penginnya di UGM, atau kalau enggak, ya, di Unsoed,” aku selesai mengisi daftar kunjungan. Sempat ku baca salah satu pengunjung di situ. Dimas? Apa dia di sini? Ya ampun, batinku.
“Wah, bagus itu, fakultas apa yang akan Nak Laras ambil?” beliau menutup daftar kunjungan.
“Hmm, saya penginnya masuk fakultas kedokteran, pak, mau jadi dokter,” jawabku sedikit malu.
“Oh, hehehe,” Pak Mardi terkekeh, “Mau jadi dokter, ya? Ya bagus, dong, nanti kalau bapak berobat gratis, ya? Soalnya, sst… bapak orang miskin,” candanya.
“Oh, tentu saja, pak, itu juga salah satu tujuan saya menjadi dokter, memberi keringanan pada orang – orang miskin agar bisa berobat.”
“Wah, Nak Laras memang baik. Bapak do’akan semoga bisa tercapai cita – citamu,” beliau tersenyum ramah. “Perbanyaklah membaca buku.”
“Aamiin. Iya, pak, saya juga mau baca – baca buku di sini.”
“Ya, silahkan.”

Aku langsung menuju rak buku bagian fiksi. Aku memilih – milih novel yang menurutku bagus untuk ku baca. Setidaknya bisa mengisi waktu sampai pukul satu siang. Ku lihat jam, masih pukul 10.00 am. Masih pagi, tetapi teman – temanku sudah pulang. Hmm, biarkan saja lah.
Aku menemukan buku yang ku cari. Aku mengambil tempat duduk yang nyaman. Ah, sepertinya pojok rak buku itu cukup nyaman, pikirku. Aku pun duduk di pojok rak buku sambil mulai membuka – buka halaman novel.
“Mau jadi dokter, ya?” tanya seseorang yang tiba – tiba saja sudah ada di dekatku.
“Dimas? Ngapain kamu di sini?” ternyata Dimas memang ada di sini. Sekarang aku tak lagi kaget, karena kami memang sudah sering mengobrol.
“Cuma iseng – iseng aja, baca – baca buku.”
“Ohhh…” jawabku sekenanya.
“Kamu juga ngapain di sini?” tanyanya.
“Cuma pengin baca buku, kenapa?” jawabku tanpa menoleh dari novelku.
“Eh, minggu depan makan – makan, yuk?”
“Hah? Makan – makan? Ngapain?” kali ini aku menoleh. Tetapi kemudian aku membaca novelku lagi.
“Gak apa – apa, cuma pengen nraktir kamu aja,” jawabnya polos.
“Hah? Cuma aku?”
“Hmm, kalo keberatan juga bisa, kok, ngajak yang lain, besok aku akan ajak Iwan.”
“Hmm, boleh tuh, aku ajak Indah aja,” Indah, teman sebangkuku.
“Oke, sampai jumpa minggu depan, ya?” dia mulai beranjak dari tempat duduknya di sebelahku.
“Eh, tunggu, tunggu, ada apa sih sebenarnya?” tanyaku sambil menarik kaosnya, “Ups, maaf,” lagi – lagi aku malu pada diriku sendiri.
“Ah, tak apa. Nanti juga tahu sendiri, kok,” dia berdiri dan tersenyum padaku.
“Ya sudahlah, sampai jumpa minggu depan.”
“Ya… oh, iya, nih ada surat buatmu,” dia merogoh sakunya, kemudian memberikan surat itu padaku.
“Apaan?” tanyaku polos.
“Udah, baca aja sendiri. Oke, aku mau pulang dulu, ada seseuatu yang harus aku selesaikan,” dia melangkah keluar perpustakaan. Aku hanya memandangnya hingga ia tak tampak lagi. Lantas aku memandang surat yang diberikan Dimas. Apa ini? gumamku. Aku buka surat itu. Ku baca dari atas sampai bawah. Jantungku sedikit berdebar – debar ketika membacanya.

*~*~*

Hari yang ditentukan telah tiba. Aku telah mempersiapkan semua jawaban untuk Dimas. Ku lirik jam tangan, sudah pukul 08 a.m., pertemuan kami nanti pukul o9 a.m. di café dekat SMA Negeri 1 Kebumen. Jaraknya tak cukup jauh, hanya 100 meter ke timur.
Mendadak handphone-ku berdering, ada sebuah panggilan masuk. “Halo?” sapaku pada orang yang meneleponku.
“Halo, Laras, assalamu’alaikum,” jawabnya.
“Wa’alaikum salam, ini siapa?”
“Ini paman, Nak.”
“Oh, paman, ada apa paman?”
“Ibumu, Nak, ibumu,” suara paman tergesa.
“Ada apa dengan ibu, paman?”
“Ibumu sedang di RS Kebumen , penyakit levernya kambuh, ibumu ingin kamu menjenguknya” jawab paman.
“Baiklah, paman, Laras akan ke sana,” sejenak terlintas di benakku ketika dua tahun yang lalu penyakit ibuku kambuh, dan sekarang kambuh lagi. Klik. Ku tutup pembicaraanku di telepon.
Kini aku bingung harus memilih antara traktiran Dimas atau menjenguk ibu. “Aduh, kalau aku menjunguk ibu, nanti kasihan Dimas, ah, tapi tak apalah, aku bisa mengirim pesan untuknya, semoga saja dia mau mengerti dengan keadaanku.” Aku segera mengetik pesan yang agak panjang untuk Dimas. Isinya :
‘Dimas, maaf aku tak bisa datang di café sekarang. Ibuku sakit dan aku harus menjenguknya. Soal surat itu, maaf ya. Sementara ini aku sedang tak ingin berpacaran dengan siapapun. Aku masih ingin belajar dan kuliah untuk menggapai cita – citaku. Aku tau kamu kecewa, tapi jangan khawatir, waktu masih panjang untuk kita menjalin hubungan. Lebih baik pikirkan dulu masa depan kita. Sekali lagi, maaf, ya? Kamu masih bisa kok makan – makan dengan Iwan dan Indah. Oh ya, sampaikan maafku untuk mereka juga ya? Terima kasih
Tak lama aku pun bergegas ke luar rumah, nenek dan kakek telah aku beritahu. Mereka juga ikut menjenguk ibu. Kami bertiga menyetop sebuah angkot di pinggir jalan. “Maafkan aku, Dimas,” batinku. Angkot pun melaju membawa kami dan penumpang lain.

Kebumen, 20 Mei 2013.

Contoh Cerpen | Ini Gayaku


Ini Gayaku

“H
ah? Kau cemburu?” tanya Riki.
“Iya‼” jawab Dina.
“A.. aapaahh?? Apa aku tak salah dengar??”
“Kenapa kau seperti ini padaku? Apa kau tak memahami perasaanku selama ini padamu? Kenapa kau baru bilang kalau kau menyukai seorang selain aku? Kenapa?!” Dina menangis begitu saja.
“A.. A.. Aku.. Aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya..”
“Sudahlah, tinggalkan aku!” potongnya cepat. Yeoja itu pun menutup pembiacaraan di telepon. “Tut.. tut.. tut..”
“Halo? Tut.. tut.. tut.. Ahh… kenapa yeoja itu? Aneh, padahal aku belum menjelaskan padanya yang sebenarnya. Ahhhh‼‼” desah Riki kecewa. Dia melempar hapenya di tempat tidur. Malam itu dia merasa sangat bingung.

Dua, ah tidak, tiga, tidak juga, ahh banyak sekali yeoja yang telah dia sakiti. “Ahh‼ kenapa aku bisa seperti ini? Apa aku benar – benar seorang playboy? Ahh‼ entahlah…” gumamnya.
Riki terkenal di sekolahnya kalau dia seorang namja yang dikenal playboy, meski ia tak pernah menganggap dirinya playboy tapi sifatnya memang persis seperti seorang playboy. Ya, dia sering menyakiti hati seorang yeoja. “Ahh‼ sudahlah, apa gunanya membahas itu. Toh, tak akan membantu memecahkan masalah yang sedang kuhadapi sekarang.”
Pernah suatu ketika Riki bilang pada diri sendiri, “Ahh‼ aku jadi benci yeoja! Aku benci cewek! Aku benci! Apa semua cewek seperti itu? Huhhh! Tak seharusnya aku mengumpat seperti itu. Seharusnya aku menyadari diri sendiri kenapa aku dengan mudah mengirim SMS yang membuatnya jadi tersinggung. Ahh‼ aku memang payah‼ payah‼”
Pertengkaran itu terjadi saat Riki mengirim satu pesan pada beberapa temannya, dia juga mengirimnya pada Dina.
“Hanya gara – gara aku ngeshare ‘Aku merindukanmu :*’ saja jadi salah paham begini. Hhhhh… dasar yeoja!” gumamnya. “Apa gara – gara emokiss itu, ya? Ah‼ lupakan! Yeoja memang suka seperti itu.”

Dina menangis tersedu – sedu, ia tidak menyangka Riki akan seperti itu padanya. Ternyata dia menyukai sesang yeoja lain selain dirinya, “Padahal aku kira dia menyukaiku, ternyata semua namja sama saja! Aku menyesal telah mengenalnya!” dia masih tersedu – sedu karena sedih.
Riki mengirim beberapa sms pada Dina, ia ingin meminta maaf padanya. Tapi oleh Dina, tak dibalasnya. “Ahh! Kenapa kau tak mau membalas sms-ku, Dina? Kau salah paham…”

Dina mengenal Riki di sebuah jejaring sosial facebook, waktu itu ia sedang sedih karena telah memutuskan hubungan dengan pacarnya. Riki adalah teman baik Roni, mantan pacar Dina. Dina meminta bantuan pada Riki untuk membujuk Roni memafkan kesalahan Dina. Dan itu pula yang menjadi awal perkenalan Dina dan Riki meski ia pernah mengenal nama Riki di facebook, tapi ia baru mengenal lebih dekat dengannya.
Sebuah perkenalan yang dirasa biasa saja oleh Riki, tapi tidak dengan Dina. Diam – diam ia menaruh hati pada namja yang telah membantunya. Sayangnya, ia mudah sekali tersinggung. Apalagi kalau sesang namja yang ia sukai mengatakan sesuatu yang menyinggung hatinya. Seperti masalah yang dialami Riki saat ini.
‘Aku merindukanmu :*      -share’. Riki mengirim sms itu pada teman – temannya, termasuk Dina. Ia tidak menyangka tanda ‘:*’ membuat Dina tersinggung dan merasa tersakiti. Riki dibuat bingung, “Aku bingung, kenapa dia marah, ya? Padahal aku sedang merindukan teman – temanku, lama aku tak melihat teman – temanku di sekolah. Eh, Dina salah paham padaku. Uhhh, dasar yeoja.” Gumamnya saat Dina mulai terlihat marah di sms malam itu.

Riki menyadari kalau ia baru saja menyakiti sesang yeoja yang menyukainya. Ini bukan pertama kalinya. Sudah beberpa kali ia mengalami masalah serupa. Dan itulah mengapa ia di’cap’ sebagai PLAYBOY. Tentu saja ia tidak terima dicap seperti itu. Dia hanya bingung memilih untuk menyukai siapa. Pasalnya tak hanya satu yeoja yang menyukainya, tapi lebih dari itu. Dan ia bingung memilih untuk mencintai salah satunya saja tetapi malah menyakiti yang lain, atau memilih bilang sejujurnya kalau ia memang tidak menyukai siapa pun. Dan itulah yang ia pilih, sehingga semua yeoja itu merasa sakit hati. “Tak apa, daripada aku harus berbohong menyukai salah satu dari mereka, aku lebih memilih mereka marah padaku. Saat ini aku sedang tak ingin dengan siapapun.” katanya saat semua yeoja itu marah – marah padanya.
Riki memang pernah pacaran, tapi itu hanya sekali dan ia berjanji tak akan pacaran lagi dengan yeoja manapun. Ia tahu pacaran tak mengenakkan, menyakitkan hati saja. Dan itu juga salah satu alasan ia ‘menolak’ cinta yeoja – yeoja yang menyukainya.
Suatu ketika ia pernah bertanya pada seorang ustadz, ia lupa kapan itu terjadi, ia menanyakan tentang hukum pacaran dalam Islam. Dengan tegas kyai itu menjawab, “Dalam hukum Islam, memandang perempuan saja termasuk perbuatan zina jika ia memandangnya dengan nafsunya saja. Apalagi sampai memegang tangannya, berduaan di tempat sepi, makan hanya berdua, maka syaithan akan dengan mudah masuk dalam hati dua muda – mudi itu, menggoda mereka untuk melakukan perbuatan zina. Dan itulah mengapa pacaran tidak diperbolehkan dalam Islam.” Beliau menjelaskan pada Riki dengan sabar dan tersenyum.
“Tapi ustadz, kalau kita mencintai seseorang, tapi kita tak ingin berpacaran, bagaimana penyelesaiannya?” tanya Riki protes.
“Kalau saling menyayangi sesama manusia saja  itu diperbolehkan. Tapi hanya sebatas saling menyayangi sesama manusia saja, tidak lebih dari itu, tentu boleh.” Riki mengangguk paham.

*~*~*

Esoknya Riki telah diperbolehkan untuk berangkat ke sekolah oleh orang tuanya. Ia baru saja mengalami kecelakaan seminggu yang lalu yang membuatnya berjalan pincang. Tetapi sekarang ia sudah bisa berjalan lagi. Ia tak sabar ingin segera sampai ke sekolahnya dan bertemu dengan teman – temannya. Ia ingin bertemu Lili, Ujang, dan Maia. Mereka adalah teman baik Riki selain Roni.
“Bagaimana kabarmu, bro?” sapa Ujang ketika Riki baru saja duduk di bangkunya. “Udah baikan, kan?”
“Alhamdulillah udah, Jang,” jawab Riki lesu. Ia terlihat murung karena kejadian tadi malam.
“Kenapa denganmu, bro? Ada masalah lagi?” tebak Ujang.
“Hhhh… iya, Jang, aku sedang ada masalah saat ini,” Riki menjawab lirih.
“Biar kutebak. Pasti masalah cewe lagi, kan?” ia menaik turunkan alisnya sambil menggoda. “Hayo, ngaku…”
“Hmm, tau aja kamu,” jawabnya sambil memukul pelan lengan temannya.
“Haha… wajar saja, kau kan playboy,” tawanya meledak.
“Huh, playboy mana yang ga pernah pacaran sampai sekarang?” protesnya. “Kenapa aku masih saja di ‘cap’ playboy, ya?”
“Entahlah,” Ujang mengangkat bahunya. “Memangnya ada masalah apa, sih?”
Riki pun mulai bercerita.


Malam itu suasana sepi. Hape juga sepi, tak ada suara – suara orang yang biasa bersenandung membaca tasrif malam itu. Wajar saja, malam jum’at memang sepi. Di rumah Riki memang tak biasa mengadakan yasinan atau barjanjian setiap malam jum’at. Tidak seperti orang di kampungnya yang selalu yasinan atau barjanjian tiap malam jum’atnya.
Riki mulai bosan, di rogohnya hape di dalam saku. Tak ada. Ah, Riki lupa. Ia menaruh hapenya di tempat tidur. Bergegas ia pergi ke kamarnya. Melemparkan tubuhnya ke kasur yang empuk.
“Hmm, sms-an ahh. Biar gak bosen,” gumam Riki. Ia mulai memencet – mencet tombol handphone-nya. Ia menulis sebuah pesan singkat, sebenarnya hanya iseng – isengan dia saja.

Aku merindukanmu :*
-share

To : Ujang [+628985069876],
Lili 2 [+6289688900911],
Maia 2 [+6289604254517],
Dina [+6283811465718],
Fajar [+628979388883].

Setelah itu ia menekan kirim. Menunggu rincian pengiriman itu. “Yak, terkirim semua. Ahahaha, berhasil…” ia bergembira sekali. Tak lama hapenya pun bergetar. Ada sms masuk. Dan Riki segera membalasnya.

‘kamu kangen aq?’ Dina
→‘engga kok, pedenya. xp’ Riki
‘oh, trus siapa?’ Dina
→‘ah, ada deh xp’ Riki
‘oh, jadi selama ini km bo’ong ya?’ Dina
→‘hah? Mksdmu?’ Riki
‘udah dh, ngaku aja. Km suka yeoja lain kan?’ Dina
→‘aa.. aappaah? Maksudmu?’ Riki
‘aq cmburu! L’ Dina
→‘hah?? Kau… kau cemburu??’ Riki
‘iya’ Dina
→ ‘jadi, selama ini kau menyukaiku?’ Riki

            Terjadilah perdebatan hebat antara Riki dan Dina di sms. Riki berusaha menjelaskan yang sebenarnya tapi dia tak bisa. Sedangkan Dina tak bisa mempercayai apa yang Riki katakan.


“Begitulah, Jang,” cerita Riki mengakhiri.
“Oh, itu gampang saja,” kata Ujang. Belum sempat ia bicara lagi, Lili ikut nimbrung mendengarkan.
“Ada apa, sih? Kok keliatannya rame?”
“Ini nih, temen kita butuh bantuan sepertinya,” jawab Ujang.
“Memangnya ada apa?” tanya Lili penasaran.

*~*~*

Akhirnya Riki berusaha menjelaskan pada Dina yang sebenarnya. Ini pun atas saran dari teman – temannya. Dia tak mau mengungkit – ngungkit masalah lagi dengan Dina. Toh apapun jawaban Dina tak masalah buatnya. “Yang penting aku udah jujur,” gumamnya.
“Bismillah…” ia memencet beberapa angka. Dan, “Tut… tut… tut…”
“Halo?” suara dari seberang.
“Dina, maafkan aku. Malam itu aku hanya iseng – iseng saja. Aku tak sengaja menambahkan emokiss itu. Aku tak tahu kalau kau menyukaiku. Aku tak bisa, Dina. Aku tak bisa menyukaimu. Kau tahu kenapa? Karna aku tak bisa menyakiti teman baikku itu, si Roni. Aku tak mau jadi serigala yang berbulu domba. Kau pasti tahu itu. Bukankah kau juga tak mau menyakitinya? Kau masih menyayanginya, kan? Maaf, Dina. Aku tak bisa. Sekali lagi maaf. aku ingin kita berteman saja. Aku tak mau pacaran lagi sekarang. Kau teman terbaikku. Apa kamu mau maafin aku?” jelas Riki panjang lebar. Perasaannya lega sekarang karena telah melakukan apa yang teman – temannya sarankan. Dan ia berhasil mengatakannya.

Esoknya, Riki ke sekolah. Dia mengenakan kacamata. Tidak seperti biasanya. Kancing baju ia rapikan sampai yang paling atas. Rambutnya ia belah dua. Rupanya ia menjadi orang yang culun sekarang. “Kurasa dengan tampilanku sekarang, aku tidak lagi dianggap playboy. Biarlah teman – teman menertawakanku. Aku senang daripada harus menyandang cap di dahiku sebagai PLAYBOY,” gumamnya. Ia selalu tersenyum hingga ia sampai ke kelasnya. Dan memang benar apa yang diduganya sebelumnya. Teman – temannya menertawakan penampilan Riki. “Tak apa, ini pilihanku yang terbaik, pe de ajah,” ia tersenyum lagi.
Duduk di bangku. Kelas sudah ramai rupanya. Tetapi saat Riki datang semua hening sejenak. Kemudian seisi kelas menertawakannya. Suasana kelas menjadi riuh kembali. Hanya Ujang, Maia, dan Lili yang diam. Ya, memang mereka yang menyarankan Riki untuk seperti itu, jadi mereka tak menertawakannya. Riki telah mendapat suatu pelajaran yang berharga dari Dina. Dia berharap ia adalah yeoja terakhir yang pernah ia sakiti.
Riki duduk di bangku. Ia telah gembira sekarang. Ia mulai berbincang – bincang dengan Ujang, teman sebangkunya. Tanpa ia sadari, ada seorang yeoja yang memandangnya kagum. Dia menyunggingkan senyum. Ya, dialah Lili.

SELESAI

Kebumen, 9 Mei 2013.