Selasa, Januari 14, 2014

Contoh Anekdot

Sebuah ANEKDOTTMJ B.Indonesiaseri 2
oleh : Nail Hikam F. / 12 / SCI Semester II

1.  Rambut Hidung
Di suatu warung lesehan di pinggir jalan, terdapat dua orang mahasiswa sedang bercakap-cakap tentang SMA mereka dulu. Mereka bernama Udin dan Usro. Si Udin tiba-tiba berkata, “Eh, liat noh, Sro,” sambil menunjuk sebuah sekolah di seberang jalan, “Itu dulu SMA gue.”
Usro langsung menengok ke arah yang dituju, “Oh, jadi itu SMA loe,” jawab Usro ngangguk-ngangguk.
Gue nggak nyangka udah jadi kayak hotel gini, dulu pas gue masih di sono, masih banyak batu bata sama semennya.”
Lho, itu masih mendingan, SMA gue sampe sekarang masih aja kayak gitu,” timpal Usro.
Kayak gimana?” tanya Udin.
“Kandang Ayam. Tapi gue nggak nyesel, deh, sekolah di sono, buktinya gue bisa di UGM,” jawab Usro.
“Wah, berarti loe beruntung. Kalo gue nyesel sekolah di SMA sono.”
Lho kok? Loe ‘kan juga di UGM?” protes Usro.
“Bukan masalah itu,” timpal Udin.
Trus?” tanyanya sambil meminum es teh yang dipesannya.
Gue nyesel karena dulu kepala sekolah gue botak!”
Usro yang sedang meminum es teh mendadak es tehnya keluar lagi dari mulutnya. Tersedak. “Apa hubungannya kepala botak sama sekolah?”
“Ya iya lah. Duit gue diporotin mulu cuma buat numbuhin rambutnya. Noh, liat noh,” sambil menunjuk seseorang yang berada di dalam mobil Mercedes Benz, “Itu dulu kepsek gue. Liat, ‘kan? Sekarang udah punya rambut di kepalanya!”
“Wah, bener loe, Din,” sambil manggut-manggut, “Eh, bukan cuma kepalanya doang ternyata.”
“Apanya?”
Idungnya juga berambut lebat!” mereka tertawa lepas.

2.  Tikus atau Tupai?
Ada seorang murid, namanya Andre, yang nyeletuk pada temannya, Tono. “Eh, No, apa ada ya? Tikus yang gemuk, megang koper, dan berdasi?”
Si Tono langsung menjawab, “Ada tuh, tikusnya botak, pula.”
“Mana tikusnya?”
“Itu tuh, yang lagi jalan depan perpus,” sambil menunjuk seseorang.
“Kok, Pak Kepsek, sih?” protes Andre, “Itu sih bukan tikus namanya.”
Trus apa?”
“Bajing pake ‘an’!” jawab Andre. Mereka tertawa lepas. Bajing adalah sebutan lain untuk seekor tupai dalm bahasa jawa.

3.  Bule Negro
Seorang murid SMA sedang berbicara kepada temannya. Ia menanyakan sesuatu yang aneh, “Eh, udah pernah liat bule belon?”
Udah, dong,” jawab temannya.
“Hehe, kalo bule yang negro udah pernah liat?”
“Hah? Emang ada, ya?”
“Oh, kamu nggak percaya? Tunggu aja, bentar lagi ia masuk kelas kita, lho.” Tak lama kemudian, muncul orang yang dimaksud.
Lho, kok Mrs. *sensor*, sih?” protes temannya.
“Sssst... dengerin aja cara ngomongnya.” Mereka pun mendengarkan materi yang diberikan oleh Mrs. *sensor*. “Tuh ‘kan, dia pake Bahasa Inggris terus, berarti dia bule.”
“Oh, aku tau kenapa bisa jadi bule negro.”
“Apa coba?”

Sambil mendekatkan mulut ke telinga temannya. “Dia ‘kan ‘imut’, alias Item Mutlak!”

Pengaruh Air terhadap Perkecambahan


LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI
PENGARUH AIR TERHADAP PERKECAMBAHAN





Oleh :
  1. Nail Hikam F.             (12)
  2. Resti Wahyuni                        (15)
  3. Shifa Mufidah             (18)
  4. Yoga Mugiyo P.          (22)

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMA NEGERI 1 KEBUMEN
2013

PRAKATA

Assalamualaikum Wr.Wb
            Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan praktikum perkecambahan, dan menyusun laporan ini sebagai data hasil pengamatan kami.
            Kami juga menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Tanpa bantuan mereka, maka laporan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Laporan ini disampaikan untuk memenuhi tugas dari Bapak Ahmad Makmur Santoso, selaku guru Biologi untuk kelas X SCI. Laporan ini berisi tentang hasil praktikum pengaruh air terhadap proses perkecambahan kacang hijau.
            Kami berharap laporan ini dapat berguna bagi teman-teman. Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mohon maaf apabila ada kesalahan dalam kata-kata maupun penulisan.
Wassalamualaikum Wr. Wb

Kebumen, 21 September 2013

Penulis
DAFTAR ISI

Prakata................................................................................................................................. i
Daftar isi.............................................................................................................................. ii
Bab I : Pendahuluan............................................................................................................ 1
Bab II : Tinjauan Pustaka.................................................................................................... 2
Bab III : Metode Penelitian................................................................................................. 4
Bab IV : Pembahasan.......................................................................................................... 5
Bab V : Kesimpulan Dan Saran........................................................................................... 7
Daftar Pustaka..................................................................................................................... 8

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Dalam setiap pertumbuhan makhluk hidup tentu saja terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya. Air adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Namun permasalahan yang dihadapi saat ini adalah banyak sedikitnya air yang diberikan pada saat proses awal atau proses perkecambahan. Oleh karena itu penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kadar air (intensitas air) terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau serta pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup tanaman tersebut.
B.   Rumusan masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah, bagaimana  pengaruh air terhadap pertumbuhan kacang hijau?
C.   Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitia ini adalah untuk mengetahui pengaruh air terhadap proses perkecambahan kcang hijau.
D.   Manfaat penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh air terhadap proses perkecambahan. Selain itu juga dapat dijadikan sebagai referensi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Klasifikasi Tanaman Kacang Hijau
Menurut Setijo Pitojo (2004) Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman kacang hijau ini diklasifikasikan seperti berikut.
Divisi                   :           Spermatophyt
Sub-Divisi            :           Angiospermae
Kelas                    :           Dicotyledonae
Ordo                     :           Rosales
Famili                   :           Papilionaceae
Genus                   :           Vigna
Spesies                 :           Vigna Radiata L.

B.     Morfologi Tanaman Kacang Hijau
Kacang hijau merupakan tanaman pangan semusim berupa semak yang tumbuh tegak. Tanaman kacang hijau adalah tanaman berumur pendek (60 hari). Panen kacang hijau dilakukan beberapa kali dan berakhir pada hari 84 setelah tanam.
Susunan tubuh tanaman kacang hijau terdiri atas akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Perakaran tanaman kacang hijau bercabang banyak dan membentuk bintil akar (nodul) akar. Adapun deskripsi masing-masing bagian tanaman tersebut dijelaskan sebagai berikut.
            Akar tanaman kacang hijau berakar tunggang. Sistem perakaran dibagi menjadi dua, yaitu mesophites dan xerophites. Mesophites mempunyai banyak cabang akar pada permukaan dan tipe pertumbuhannya menyebar. Sementara xerophites memiliki akar cabang lebih sedikit memanjang ke arah bawah .
            Batang kacang hijau berbentuk bulat dan berbuku-buku. Ukuran batangnya kecil, berbulu berwarna hijau kecoklatan atau kemerahan. Setiap buku batang menghasilkan satu tangkai daun, kecuali pada daun pertama berupa sepasang daun yang berhadapan dan masing-masing daun berupa daun tunggal. Batang kacang hijau tumbuh tegak dengan ketinggian mencapai 1 m, cabang menyebar ke semua arah.
            Daun kacang hijau tumbuh majemuk, terdiri dari tiga helai anak daun setiap tangkai. Helai daun berbentuk oval dengan bagian ujung lancip dan berwarna hijau muda hingga hijau tua, letak daun berselip. Tangkai daun lebih panjang dari pada daunnya sendiri.
Bungga kacang hijau berbentuk seperti kupu-kupu dan berwarna kuning kehijauan atau kuning pucat. Bunganya termasuk jenis hermaprodit atau berkelamin sempurna. Proses penyerbukan terjadi pada malam hari sehingga pada pagi harinya bunga akan mekar dan pada sore hari menjadi layu.
Buah kacang hijau berbentuk polong. Panjang polong sekitar 5-16 cm. Setiap polong berisi 10-15 biji. Polong kacang hijau berbentuk bulat silindris atau pipih dengan ujung agak runcing atau tumpul. Polong muda berwarna hijau, setelah itu berubah menjadi kecoklatan atau kehitaman. Polongnya mempunyai rambut-rambut pendek atau berbulu.
  1. Habitat Kacang Hijau
Kacang hijau merupakan tanaman tropis yang menghendaki suasana panas selama hidupnya. Tanaman ini dapat ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Tanaman kacang hijau dapat tumbuh di daerah yang curah hujannya rendah dengan memanfaatkan sisa-sisa kelembapan pada tanah bekas tanaman yang diairi.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Variabel penelitian ini adalah :
1.      Media dan jumlah air yang berbeda sebagai variabel bebas
2.       Pengaruh  air terhadap proses perkecambahan sebagai variabel terikat

B.     Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada 2 s.d. 7 September 2013. Penelitia ini dilakukan di  kelas  SCI SMA Negeri 1 Kebumen.
  1. Alat dan Bahan
1.      Alat yang dibutuhkan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Kapas
b. Kertas label
c. Akua gelas
d. Alat Tulis
2.      Bahan yang dibutuhkan
Bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :
a. Kacang hijau
b. Air
D.    Cara Kerja
1.      Siapkan alat dan bahan yang digunakan.
2.      Siapkan akua gelas dan isi dengan :
a.       Akua gelas dan kacang hijau.
b.      Akua gelas, kapas basah, dan kacang hijau.
c.       Akua gelas, air setengah  gelas, kacang hijau.
3.      Tempatkan akua gelas ditempat yang nyaman.
4.      Amati masa perkecambahan setiap hari sekali.

E.     Hipotesis Penelitian
Hipotesis dari penelitian ini adalah air mempengaruhi peroses perkecambahan.
BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan pengamatan selama 6 hari diperolehlah hasil sebagai berikut :

Perlakuan
Keterangan pada hari ke-
1
2
3
4
5
6
I
Tidak berkecambah
Tidak berkecambah
Tidak berkecambah
Tidak berkecambah
Tidak berkecambah
Tidak berkecambah
II
 4 biji mulai mengelupas
5 biji mulai berkecambah
7 biji mulai berkecambah
Mulai tumbuh akar, batang pendek
Akar dan batang mulai memanjang, tumbuh daun
Akar, batang, dan daun sudah tumbuh sempurna
III
3 biji mengelupas
4 biji mengelupas
6 biji mengelupas
Jumlah biji berkecambah tetap, tetapi tidak tumbuh
Jumlah biji berkecambah tetap, tetapi tidak tumbuh
Jumlah biji berkecambah tetap, tetapi tidak tumbuh

Keterangan :
Perlakuan ke I          :  kacang hijau diletakkan dalam gelas tanpa media tanam.
Perlakuan ke II         : kacang hijau diletakkan dalam gelas dengan kapas basah sebagai media tanam.
Perlakuan ke III       :  kacang hijau diletakkan dalam gelas dengan air sebagai media tanam.

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa pada gelas tanpa media tanam (perlakuan I), kacang hijau tidak dapat berkecambah. Ini disebabkan karena tanaman dapat tumbuh jika keadaan di sekitarnya lembab, sedang pada perlakuan I kering tanpa air atau keadaan sekitar yang lembab. Sedangkan pada perlakuan III, kacang hijau hanya mengalami proses perkecambahan saja, tidak tumbuh. Hal ini karena terlalu banyaknya intensitas air dalam gelas.
            Perubahan yang terjadi pada Perlakuan II yaitu gelas yang berisikan kapas basah terjadi proses perkecambahan. Pada hari pertama kulit dari kacang hijau mulai mengelupas, pada hari ke 2 tumbuh kecambah. Sedangkan pada hari ke 4 tumbuh akar, yang selanjutnya pada hari ke lima kecambah semakin meninggi dan hari ke enam muncul pucuk-pucuk daun. Pada perlakuan II mengalami proses perkecambahan serta dapat tumbuh dengan baik karena intensitas airnya seimbang, tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Pertumbuhan dan proses kecambahan yag paling baik adalah pada media kapas basah karena kandungan airnya yang seimbang. Proses perkecambahan pada perlakuan III lebih lambat dibanding perlakuan II karena jumlah air yang terlalu banyak. Pada perlakuan I tidak terjadi proses perkecambahan karena tidak tersedianya air.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian “Pengaruh Air terhadap Proses Perkecambahan” adalah proses perkecambahan membutuhkan air. Air yang digunakan atau diberikan pada proses perkecambahan harus dipertimbangkan jumlah airnya. Jumlah air yang diberikan tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit.
B.     Saran
Sebelum melakukan proses perkecambahan harus mempertimbangkan jumlah air terlebih dahulu. Selain itu dalam pemilihan kacang lebih baik memilih biji kacang yang masih segar sehingga dapat memaksimalkan hasil penelitian. Kapas diberi air set
Selain itu kapas dan air yang digunakan harus steril.

                                                                                                


DAFTAR PUSTAKA

Sudjadi, B dan Laila, Siti. 2007. BIOLOGI 3A Sains dalam kehidupan. Surabaya: Yudhistira.
Soerga, N. 2009. Pola Pertumbuhan Tanaman. http://soerga.wordpress.com