Jumat, Juli 26, 2013

Contoh Cerpen | Cinta Tak Terbalas

Cinta Tak Terbalas
( Karya : Milatul Fasikhah )

            Kukayuh sepeda tanpa tenaga. Sinar mentari sudah mulai tinggi. Hawa pagi ini sangat panas. Derum motor dan sepeda di sekelilingku tak membuatku teralih dari lamunanku. Terlintas di depanku, seorang pemuda yang selalu saja ada dalam pikiranku. Ah, sedang apa aku ini? batinku menepis lamunanku tadi. Ku lihat dua orang gadis melintas di depanku, kontan saja aku panggil mereka.
            “Salma… tungguin dong,” teriakku. Gadis yang kupanggil tadi menoleh.
            “Ayo cepetan…” katanya.
            “Pelan aja kenapa?” pintaku pada Salma dan Lusi.
            “Ini udah jam tujuh kurang seperempat tau!” katanya protes.
            “Iya Fik, sebaiknya kita cepat kalau gak mau di hukum sama Bu Iis,” Lusi menambahkan.
            “Hmmm… ya lah…” jawabku lesu.
Ku percepat laju sepedaku. Tak terasa kami bertiga telah sampai di pintu gerbang sekolah kami tercinta. Aku turun dari sepeda, bersalaman dengan guru yang berdiri di gerbang itu. Ku tuntun sepeda menuju tempat parkir. Lusi sudah mendahului kami, ia pamit padaku dan Salma. Wajar saja, dia tidak sekelas denganku tetapi aku dan salma sudah akrab dengannya.
Ku langkahkan kakiku menuju kelasku. Tanpa sengaja mataku menangkap sosok pemuda yang begitu akrab di pikiranku. Tiba – tiba dia menyapaku dengan senyumnya yang ramah.
“Hai, Fik…” kata cowok itu. Tak kujawab sapaan maupun senyumannya. Ku tundukkan kepalaku. Tetapi, jantungku menjadi berdegup kencang saat dia menyapaku lagi.
“Hai… kamu kenapa, kok diem aja? Hmmm… udah sombong nih ye?”
“Eumm, hai… ah, enggak kok. Eumm… maaf, aku ke kelas dulu ya?” jawabku tanpa peduli pada pemuda itu lagi. Ku percepat langkahku menuju kelas.
“Tuh anak kenapa sih? Kok aneh banget?” ku dengar kekecewaannya padaku tadi.    
Aku langsung menaruh tasku ke tempat dudukku, aku langsung duduk dan entah kenapa tiba - tiba bayangan pemuda tiu hadir dalam lamunanku lagi.
“Aduh…  ada apa dengan diriku ini? Kenapa di setiap aku bertemu dengannya rasanya hatiku tak menentu dan akupun merasa deg – degan?  Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kenapa aku selalu memikirkannya? Ya Allah, bantulah aku…’’ batinku.
Bel masuk pun berbunyi,  semua siswa duduk ditempatnya masing-masing untuk berdoa bersama  . Sudah sepuluh menit kami menunggu bu guru masuk kelas, ternyata jam kosong tidak ada tugas pula, teman – teman bersorak – sorak gembira, tetapi aku tetap tidak menghiraukannya, karna aku masih saja melamun, dan Salma pun menyadarkan lamunanku.
‘’Hai, Fik… kita kekantin yuk, laper nih….!” ajak salma mengagetkanku.
“Ah… kamu ini gimana sih Sal? Udah tahu ini jam pelajaran masih aja mikirin perut,” jawabku sekenanya.
“Emang dari tadi kamu tuh kemana aja sih?” tanyanya sewot.
“Ya disini lah, kemana lagi?” jawabku sebel.
“Jadi temen-temen pada sorak - sorak kamu nggak denger?” tanyanya protes. Aku hanya menggelengkan kepala.
“Yah… kamu Fik… Fik, yang kamu denger dari tadi tuh apa? Sekarang itu jam kosong.” seru Salma.
“Apa?! Yang bener aja, Sal, tumben banget jamnya Bu Fat kosong,” tanyaku tak percaya.
“Ya iyalah, ngapain sih aku bohong sama kamu, ya udah yuk kekantin, udah laper banget nih…” ajak Salma maksa.
“Nggak lah, aku takut kalau ntar ketahuan guru yang lain, kamu mau tanggung jawab kalau ntar kita diomelin?” kataku  jengkel.
“Bener juga ya, ya udah, kekantinnya ntar kalo istirahat,” jawab Salma ngalah. Aku hanya tersenyum mendengar tanggapan Salma. Bayangan dia hadir lagi dalam ingatanku,aku teringat kejadian tadi pagi,aku nyesel banget betapa cueknya aku saat disapa dia,andaikan saja bias terulang kembali akan  ku jawab sapaannya dengan penuh senyuman, tapi apakah aku berani melakukan hal, itu ketemu dia  saja aku malu,dan akupun mulai berhayal dan senyum-senyum sendiri
“Fik, dari tadi diem aja, sih, cengar – cengir sendiri lagi,” tanya Salma sewot.
“Ah, kamu ngagetin aku aja!” jawabku.
“Terus kenapa kamu senyum – senyum sendiri?” tanyanya lagi.
“Eh, Sal, kamu tahu nggak orang yang selama ini aku sukai?” tanyaku tiba-tiba.
“Ya tentu tahu dong,” jawab Salma santai.
“Siapa coba?” tanyaku berbinar-binar, dan berharap dia jawab Fadil.
“Dia  Rama kan?” jawabnya dengan pe de. Aku langsung menoleh ke arah Salma, bisa – bisanya dia nebak Rama.
“Emang apa hubungannya aku sama Rama?” tanyaku cemberut.
“Iya, Rama kan terlihat akrab sama kamu, dia perhatian, sayang sama kamu, dia juga pernah bilang ke aku kok kalau dia suka sama kamu,” papar Salma
“Tapi Sal , dugaanmu salah, aku tidak menyukai Rama , aku hanya menganggap dia sebagai sahabat!” jelasku.
“Terus siapa dong?” tanya Salma penasaran.
Haruskah aku bilang ke Salma tentang perasaanku yang sebenarnya, andaikan tidak nanti aku pendam sendiri, pasti rasanya sakit, tapi kalau aku cerita ke dia takut ditertawakan, aduh terus gimana dong tapikan Salma juga sahabatku, aku juga selalu curhat ke dia kalau ada masalah tapi kalau hal ini apakah aku harus cerita ke dia,ya sudahlah aku ceritakan ke dia saja,dan moga saja dia bisa merahasiakannya”, batinku.
“Jujur ya Sal, sebenarnya orang yang aku sukai adalah  Fadil!” jawabku getar.
“Apa?! Jadi orang yang kamu sukai itu Fadil teman ekstra kamu itu?” tanyanya.
Aku tidak menjawab, aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, aku jadi teringat dia lagi deh.
“Sejak kapan kamu menyukainya? Apakah sudah lama?” tanyanya ingin tahu.
“Sudah lama aku suka sama dia, Sal, tapi aku juga nggak tahu dia suka sama aku atau tidak?” jawabku lesu.
“Bukankah dia juga sering ngobrol sama kamu, saat ekstra mungkin atau pas ketemu gitu?” tanya Salma.
“Emang, sih, kalau ekstra pernah tapi nggak sering, kalau hari biasa nggak pernah, boro – boro ngobrol nyapa aja nggak, dia tu agak jutek”, paparku.
“Udah tahu anaknya jutek , terus kenapa kamu suka sama dia?” tanya Salma sewot.
“Ya nggak tahu lah Sal, cinta itu datangnya tiba-tiba dan nggak membedakan apapun!” jelasku.
Tak terasa pergiliran jampun datang, sekarang jam olahraga, kalau olahraga akulah yang paling semangat, tidak tahu kenapa sih, pak guru pun meminta kami untuk ke aula, saat ingin ke aula jantung ini terasa berdebar-debar, dan aku berharap bias ketemu dengan Fadil, begitu aku melewati kelasnya ternyata pintu kelasnya tertutup, yah akhirnya tidak jadi ketemu dia deh, sesampainya di aula kami hanya olahraga kebugaran jasmani dan teori saja. Setelah selesai olahraga aku kembali ke kelas aku sudah ditinggal temen-temenku, dan saat itupun jam istirahatpun berbunyi, saat aku lari ingin mengejar Salma, tidak sengaja aku menabrak seseorang yang ingin keluar kelas, aku langsung tertunduk akhirnyapun aku mengangkat kepalaku, dan ternyata orang yang aku tabrak adalah Fadil, aku kembali menundukkan kepala dan minta maaf.
“Emm maaf ya Dil, aku bener-bener nggak sengaja,” ucapku malu.
“Ah, tidak apa – apa kok, Fik, lain kali hati-hati ya!” kata Fadil.
“Ya udah aku duluan ya?” tambahnya sambil meninggalkanku.
“ Aduh untung saja jantungku nggak copot!” kataku pelan.
Saat aku ingin menuju kelas, langkahku terhenti karena aku melihat secarik kertas yang terlipat, mungkin  ini kertasnya Fadil tadi terjatuh, aku mencoba memanggilnya tapi dia tidak dengar, apa ya isi surat ini, mungkinkah surat cinta? Kalau surat cinta buat siapa, setahuku dia tidak punya pacar, yah mungkin kertas biasa, batinku.
Aku langsung menuju kelas, sampainya dikelas Salma menanyaiku.
“Dari mana aja, sih kamu, Fik? ditungguin dari tadi juga!” tanya Salma jengkel.
“Itu, tadi aku mampir kekelasnya Lusi,” jawabku.
“Eh yang kamu bawa itu apa?” tanya Salma.
 Aku tidak menjawab, dan aku berusaha menyembunyikan surat itu, tapi keburu Salma mau ngerebut, dan akhirnyapun aku ceritakan ke dia soal kejadian yang baru saja terjadi, meskipun memalukan.
“Oh gitu ceritanya, oh iya, tadi kamu dicariin Rama”, kata Salma genit.
“Emang da apa dia nyari aku?” tanyaku penasaran.
“Nggak tahu, mungkin mau ngungkapin perasaan kali,” jawab Salma.
“Uh kamu deh, nggak kali” jawabku sebel, “Ya udah salat dulu yuk‼”
Salma hanya mengangguk dan langsung membuntutiku menuju mushola putri, sesampainya di mushola ternyata sudah ramai orang yang antri wudlu, belum lagi mukenanya juga gantian, aku langsung menerobos wudlu akhirnya aku langsung mendapat mukena dan akupun langsung ikut salat berjamaah. Hawa di mushola sangat panas.
Setelah salat aku langsung menuju ke kantin, dan ternyata dikantin ada Lusi dan Nayla aku langsung menyapa mereka, setelah itu aku langsung kekelas dan memakan jajanku didepan kelas dengan teman-temanku, dan tidak sengaja aku melihat Fadil lewat kelasku, hatiku pun berubah jadi tak menentu, dan tidak menyangka dia melihatku dan tersenyum, aku juga balas senyumannya. “Andaikan senyuman itu diberikan ke aku setiap hari alangkah bahagianya aku,” gerutuku dalam hati.
Bel masukpun berbunyi aku langsung masuk kelas dan memulai pelajaran berikutnya, biasa kalau pelajaran seni budaya pasti anaknya  selalu ramai sendiri tapi juga mendengarkan jika pak guru sedang berbicara ataupun menerangkan, dan tak terasa bel pulangpun berbunyi,  saat pulang aku langsung duduk didepan kelas siapa tahu keemu sama fadil, dan Lusipun menghampiriku.
“Hai, Fik, kita pulang yuk, laper nih,” ajak Lusi.
“Yah Lus, ntar dulu deh, ya, sebentar aja, aku lagi nunggin seseorang nih,” jawabku.
“Eh fik itu surat, ya? Hayo, buat siapa?” tanya Lusi.
“Emm, ini suratnya seseorang yang aku tunggu, aku mau balikin surat ini ke dia” jawabku menerangkan.
“Oh siapa sih orangnya, cewek apa cowok?” tanyanya.
“Udah nanti kamu juga tahu kok siapa orangnya, kalau kamu mau menungguku,” jawabku.
Sudah lama sekali aku menunggu dia tapi dia tidak pulang – pulang. Hatiku berkata,   “Apakah aku berani ngasih surai ini ke Fadil, sedangkan kalau bertemu saja aku sangat malu, aku harus barani”. Tak lama kemudian orang yang aku tunggu datang juga, lalu keberanikan diri untuk memanggilnya.
“Fadil,!”, teriakku memanggilnya. Fadil langsung menoleh dan memutar badannya dan menghampiriku.
“Hai, ada apa, Fik?” tanya Fadil.
“Em tidak aku hanya ingin beri ini” kataku sambil menyodorkan surat.
“Em apa ini, Fik?” tanya Fadil penasaran.
“Bukankah ini surat kamu?” tanyaku meyakinkan.
“Oh iya, dimana kamu menemukan surat ini?” tanya Fadil.
“Tadi, saat aku nggak sengaja menabrakmu” ucapku getar dan gugup.
“Oh, terima kasih ya, Fik, ya udah kalau gitu aku duluan” ucap Fadil tersenyum padaku.
“ Ya sama-sama!”jawabku.
Setelah dia pergi dari hadapanku, aku langsung merasa lega, hatiku berkata “ Aduh manis banget sih senyumannya”. Kemudian Salma dan lusi menghampiriku.
“Hai fik, udah ketemu ma orang yang kamu tunggu belum?” Tanya Lusi.
“ Sudah, baru aja dia pergi”jawabku.
“ Ya udah pulang sekarang yuk, dah laper banget nih?”ajak Lusi.
Akupun mengangguk.
Dan saat aku menuju tempat parker, langkahku tertahan karena Salma menarik tanganku, dia mengatakan sesuatu padaku, alangkah terkejutnya aku melihat orang yang selama ini aku cintai bersama orang lain, dan orang yang bersamanya adalah orang yang selama ini juga akrab denganku dia adalah Nayla sahabat Lusi dan sekaligus teman baikku.Ternyata surat yang aku kasih kedia tadi memang benar-benar buat pacarnya dan pacarnya itu Nayla. Apa yang terjadi denganku, kenapa tiba-tiba hatiku berubah menjadi sakit begini.
“ Sudah lah fik nggak usah sedih, mungkin dia bukan yang terbaik untukmu!” hibur Salma.
“ Bagaimana nggak sedih Sal, ternyata orang yang selama ini aku cintai pacaran dengan teman dekat kita sendiri!” jelasku pada Salma sedih.
“ Maaf ya Fik, aku nggak ngasih tahu kekamu dari kemarin kalau Fadil dan Nayla itu pacaran!” jelas Lusi.

Akupun hanya diam, dan selang beberapa menit Nayla dan Fadil pun pulang dengan berboncengan, saat aku melihat itu aku langsung terjatuh, mengapa semua ini harus terjadi didepan mataku, aku tidak sanggup melihat semua ini, ternyata orang yang aku cinta telah membua hatiku hancur dan benar-benar sangat sakit. Begitu mereka udah tidak kelihatan air matakupun menetes dan menangislah aku tersedu-sedu. Salma dan Lusi mencoba menghiburku, namun aku masih saja menangis, karena baru kali ini aku merasakan sakit hati yang begitu dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar