Cinta Tak Terbalas
( Karya : Milatul Fasikhah )
Kukayuh sepeda tanpa tenaga. Sinar
mentari sudah mulai tinggi. Hawa pagi ini sangat panas. Derum motor dan sepeda
di sekelilingku tak membuatku teralih dari lamunanku. Terlintas di depanku,
seorang pemuda yang selalu saja ada dalam pikiranku. Ah, sedang apa aku ini?
batinku menepis lamunanku tadi. Ku lihat dua orang gadis melintas di depanku,
kontan saja aku panggil mereka.
“Salma… tungguin dong,” teriakku.
Gadis yang kupanggil tadi menoleh.
“Ayo cepetan…” katanya.
“Pelan aja kenapa?” pintaku pada
Salma dan Lusi.
“Ini udah jam tujuh kurang
seperempat tau!” katanya protes.
“Iya Fik, sebaiknya kita cepat kalau
gak mau di hukum sama Bu Iis,” Lusi menambahkan.
“Hmmm… ya lah…” jawabku lesu.
Ku
percepat laju sepedaku. Tak terasa kami bertiga telah sampai di pintu gerbang
sekolah kami tercinta. Aku turun dari sepeda, bersalaman dengan guru yang
berdiri di gerbang itu. Ku tuntun sepeda menuju tempat parkir. Lusi sudah
mendahului kami, ia pamit padaku dan Salma. Wajar saja, dia tidak sekelas
denganku tetapi aku dan salma sudah akrab dengannya.
Ku
langkahkan kakiku menuju kelasku. Tanpa sengaja mataku menangkap sosok pemuda
yang begitu akrab di pikiranku. Tiba – tiba dia menyapaku dengan senyumnya yang
ramah.
“Hai,
Fik…” kata cowok itu. Tak kujawab sapaan maupun senyumannya. Ku tundukkan
kepalaku. Tetapi, jantungku menjadi berdegup kencang saat dia menyapaku lagi.
“Hai…
kamu kenapa, kok diem aja? Hmmm… udah sombong nih ye?”
“Eumm,
hai… ah, enggak kok. Eumm… maaf, aku ke kelas dulu ya?” jawabku tanpa peduli
pada pemuda itu lagi. Ku percepat langkahku menuju kelas.
“Tuh
anak kenapa sih? Kok aneh banget?” ku dengar kekecewaannya padaku tadi.
Aku
langsung menaruh tasku ke tempat dudukku, aku langsung duduk dan entah kenapa
tiba - tiba bayangan pemuda tiu hadir dalam lamunanku lagi.
“Aduh… ada apa dengan diriku ini? Kenapa di setiap
aku bertemu dengannya rasanya hatiku tak menentu dan akupun merasa deg – degan? Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi denganku?
Kenapa aku selalu memikirkannya? Ya Allah, bantulah aku…’’ batinku.
Bel
masuk pun berbunyi, semua siswa duduk
ditempatnya masing-masing untuk berdoa bersama . Sudah sepuluh menit kami menunggu bu guru
masuk kelas, ternyata jam kosong tidak ada tugas pula, teman – teman bersorak –
sorak gembira, tetapi aku tetap tidak menghiraukannya, karna aku masih saja melamun,
dan Salma pun menyadarkan lamunanku.
‘’Hai,
Fik… kita kekantin yuk, laper nih….!” ajak salma mengagetkanku.
“Ah…
kamu ini gimana sih Sal? Udah tahu ini jam pelajaran masih aja mikirin perut,” jawabku
sekenanya.
“Emang
dari tadi kamu tuh kemana aja sih?” tanyanya sewot.
“Ya
disini lah, kemana lagi?” jawabku sebel.
“Jadi
temen-temen pada sorak - sorak kamu nggak denger?” tanyanya protes. Aku hanya menggelengkan
kepala.
“Yah…
kamu Fik… Fik, yang kamu denger dari tadi tuh apa? Sekarang itu jam kosong.” seru
Salma.
“Apa?!
Yang bener aja, Sal, tumben banget jamnya Bu Fat kosong,” tanyaku tak percaya.
“Ya
iyalah, ngapain sih aku bohong sama kamu, ya udah yuk kekantin, udah laper
banget nih…” ajak Salma maksa.
“Nggak
lah, aku takut kalau ntar ketahuan guru yang lain, kamu mau tanggung jawab
kalau ntar kita diomelin?” kataku
jengkel.
“Bener
juga ya, ya udah, kekantinnya ntar kalo istirahat,” jawab Salma ngalah. Aku
hanya tersenyum mendengar tanggapan Salma. Bayangan dia hadir lagi dalam
ingatanku,aku teringat kejadian tadi pagi,aku nyesel banget betapa cueknya aku
saat disapa dia,andaikan saja bias terulang kembali akan ku jawab sapaannya dengan penuh senyuman,
tapi apakah aku berani melakukan hal, itu ketemu dia saja aku malu,dan akupun mulai berhayal dan
senyum-senyum sendiri
“Fik,
dari tadi diem aja, sih, cengar – cengir sendiri lagi,” tanya Salma sewot.
“Ah,
kamu ngagetin aku aja!” jawabku.
“Terus
kenapa kamu senyum – senyum sendiri?” tanyanya lagi.
“Eh,
Sal, kamu tahu nggak orang yang selama ini aku sukai?” tanyaku tiba-tiba.
“Ya
tentu tahu dong,” jawab Salma santai.
“Siapa
coba?” tanyaku berbinar-binar, dan berharap dia jawab Fadil.
“Dia Rama kan?” jawabnya dengan pe de. Aku
langsung menoleh ke arah Salma, bisa – bisanya dia nebak Rama.
“Emang
apa hubungannya aku sama Rama?” tanyaku cemberut.
“Iya,
Rama kan terlihat akrab sama kamu, dia perhatian, sayang sama kamu, dia juga
pernah bilang ke aku kok kalau dia suka sama kamu,” papar Salma
“Tapi
Sal , dugaanmu salah, aku tidak menyukai Rama , aku hanya menganggap dia
sebagai sahabat!” jelasku.
“Terus
siapa dong?” tanya Salma penasaran.
Haruskah
aku bilang ke Salma tentang perasaanku yang sebenarnya, andaikan tidak nanti aku
pendam sendiri, pasti rasanya sakit, tapi kalau aku cerita ke dia takut
ditertawakan, aduh terus gimana dong tapikan Salma juga sahabatku, aku juga
selalu curhat ke dia kalau ada masalah tapi kalau hal ini apakah aku harus
cerita ke dia,ya sudahlah aku ceritakan ke dia saja,dan moga saja dia bisa
merahasiakannya”, batinku.
“Jujur
ya Sal, sebenarnya orang yang aku sukai adalah
Fadil!” jawabku getar.
“Apa?!
Jadi orang yang kamu sukai itu Fadil teman ekstra kamu itu?” tanyanya.
Aku
tidak menjawab, aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, aku jadi teringat
dia lagi deh.
“Sejak
kapan kamu menyukainya? Apakah sudah lama?” tanyanya ingin tahu.
“Sudah
lama aku suka sama dia, Sal, tapi aku juga nggak tahu dia suka sama aku atau
tidak?” jawabku lesu.
“Bukankah
dia juga sering ngobrol sama kamu, saat ekstra mungkin atau pas ketemu gitu?”
tanya Salma.
“Emang,
sih, kalau ekstra pernah tapi nggak sering, kalau hari biasa nggak pernah, boro
– boro ngobrol nyapa aja nggak, dia tu agak jutek”, paparku.
“Udah
tahu anaknya jutek , terus kenapa kamu suka sama dia?” tanya Salma sewot.
“Ya
nggak tahu lah Sal, cinta itu datangnya tiba-tiba dan nggak membedakan apapun!”
jelasku.
Tak
terasa pergiliran jampun datang, sekarang jam olahraga, kalau olahraga akulah
yang paling semangat, tidak tahu kenapa sih, pak guru pun meminta kami untuk ke
aula, saat ingin ke aula jantung ini terasa berdebar-debar, dan aku berharap
bias ketemu dengan Fadil, begitu aku melewati kelasnya ternyata pintu kelasnya
tertutup, yah akhirnya tidak jadi ketemu dia deh, sesampainya di aula kami
hanya olahraga kebugaran jasmani dan teori saja. Setelah selesai olahraga aku
kembali ke kelas aku sudah ditinggal temen-temenku, dan saat itupun jam
istirahatpun berbunyi, saat aku lari ingin mengejar Salma, tidak sengaja aku
menabrak seseorang yang ingin keluar kelas, aku langsung tertunduk akhirnyapun
aku mengangkat kepalaku, dan ternyata orang yang aku tabrak adalah Fadil, aku
kembali menundukkan kepala dan minta maaf.
“Emm
maaf ya Dil, aku bener-bener nggak sengaja,” ucapku malu.
“Ah,
tidak apa – apa kok, Fik, lain kali hati-hati ya!” kata Fadil.
“Ya
udah aku duluan ya?” tambahnya sambil meninggalkanku.
“
Aduh untung saja jantungku nggak copot!” kataku pelan.
Saat
aku ingin menuju kelas, langkahku terhenti karena aku melihat secarik kertas
yang terlipat, mungkin ini kertasnya
Fadil tadi terjatuh, aku mencoba memanggilnya tapi dia tidak dengar, apa ya isi
surat ini, mungkinkah surat cinta? Kalau surat cinta buat siapa, setahuku dia
tidak punya pacar, yah mungkin kertas biasa, batinku.
Aku
langsung menuju kelas, sampainya dikelas Salma menanyaiku.
“Dari
mana aja, sih kamu, Fik? ditungguin dari tadi juga!” tanya Salma jengkel.
“Itu,
tadi aku mampir kekelasnya Lusi,” jawabku.
“Eh
yang kamu bawa itu apa?” tanya Salma.
Aku tidak menjawab, dan aku berusaha
menyembunyikan surat itu, tapi keburu Salma mau ngerebut, dan akhirnyapun aku
ceritakan ke dia soal kejadian yang baru saja terjadi, meskipun memalukan.
“Oh
gitu ceritanya, oh iya, tadi kamu dicariin Rama”, kata Salma genit.
“Emang
da apa dia nyari aku?” tanyaku penasaran.
“Nggak
tahu, mungkin mau ngungkapin perasaan kali,” jawab Salma.
“Uh
kamu deh, nggak kali” jawabku sebel, “Ya udah salat dulu yuk‼”
Salma
hanya mengangguk dan langsung membuntutiku menuju mushola putri, sesampainya di
mushola ternyata sudah ramai orang yang antri wudlu, belum lagi mukenanya juga gantian,
aku langsung menerobos wudlu akhirnya aku langsung mendapat mukena dan akupun
langsung ikut salat berjamaah. Hawa di mushola sangat panas.
Setelah
salat aku langsung menuju ke kantin, dan ternyata dikantin ada Lusi dan Nayla
aku langsung menyapa mereka, setelah itu aku langsung kekelas dan memakan
jajanku didepan kelas dengan teman-temanku, dan tidak sengaja aku melihat Fadil
lewat kelasku, hatiku pun berubah jadi tak menentu, dan tidak menyangka dia
melihatku dan tersenyum, aku juga balas senyumannya. “Andaikan senyuman itu
diberikan ke aku setiap hari alangkah bahagianya aku,” gerutuku dalam hati.
Bel
masukpun berbunyi aku langsung masuk kelas dan memulai pelajaran berikutnya,
biasa kalau pelajaran seni budaya pasti anaknya
selalu ramai sendiri tapi juga mendengarkan jika pak guru sedang
berbicara ataupun menerangkan, dan tak terasa bel pulangpun berbunyi, saat pulang aku langsung duduk didepan kelas
siapa tahu keemu sama fadil, dan Lusipun menghampiriku.
“Hai,
Fik, kita pulang yuk, laper nih,” ajak Lusi.
“Yah
Lus, ntar dulu deh, ya, sebentar aja, aku lagi nunggin seseorang nih,” jawabku.
“Eh
fik itu surat, ya? Hayo, buat siapa?” tanya Lusi.
“Emm,
ini suratnya seseorang yang aku tunggu, aku mau balikin surat ini ke dia”
jawabku menerangkan.
“Oh
siapa sih orangnya, cewek apa cowok?” tanyanya.
“Udah
nanti kamu juga tahu kok siapa orangnya, kalau kamu mau menungguku,” jawabku.
Sudah
lama sekali aku menunggu dia tapi dia tidak pulang – pulang. Hatiku berkata, “Apakah aku berani ngasih surai ini ke
Fadil, sedangkan kalau bertemu saja aku sangat malu, aku harus barani”. Tak
lama kemudian orang yang aku tunggu datang juga, lalu keberanikan diri untuk
memanggilnya.
“Fadil,!”,
teriakku memanggilnya. Fadil langsung menoleh dan memutar badannya dan menghampiriku.
“Hai,
ada apa, Fik?” tanya Fadil.
“Em
tidak aku hanya ingin beri ini” kataku sambil menyodorkan surat.
“Em
apa ini, Fik?” tanya Fadil penasaran.
“Bukankah
ini surat kamu?” tanyaku meyakinkan.
“Oh
iya, dimana kamu menemukan surat ini?” tanya Fadil.
“Tadi,
saat aku nggak sengaja menabrakmu” ucapku getar dan gugup.
“Oh,
terima kasih ya, Fik, ya udah kalau gitu aku duluan” ucap Fadil tersenyum
padaku.
“ Ya sama-sama!”jawabku.
Setelah dia pergi dari hadapanku, aku langsung
merasa lega, hatiku berkata “ Aduh manis banget sih senyumannya”. Kemudian
Salma dan lusi menghampiriku.
“Hai fik, udah ketemu ma orang yang kamu tunggu
belum?” Tanya Lusi.
“ Sudah, baru aja dia pergi”jawabku.
“ Ya udah pulang sekarang yuk, dah laper banget
nih?”ajak Lusi.
Akupun mengangguk.
Dan saat aku menuju tempat parker, langkahku
tertahan karena Salma menarik tanganku, dia mengatakan sesuatu padaku, alangkah
terkejutnya aku melihat orang yang selama ini aku cintai bersama orang lain,
dan orang yang bersamanya adalah orang yang selama ini juga akrab denganku dia
adalah Nayla sahabat Lusi dan sekaligus teman baikku.Ternyata surat yang aku
kasih kedia tadi memang benar-benar buat pacarnya dan pacarnya itu Nayla. Apa
yang terjadi denganku, kenapa tiba-tiba hatiku berubah menjadi sakit begini.
“ Sudah lah fik nggak usah sedih, mungkin dia bukan
yang terbaik untukmu!” hibur Salma.
“ Bagaimana nggak sedih Sal, ternyata orang yang
selama ini aku cintai pacaran dengan teman dekat kita sendiri!” jelasku pada
Salma sedih.
“ Maaf ya Fik, aku nggak ngasih tahu kekamu dari
kemarin kalau Fadil dan Nayla itu pacaran!” jelas Lusi.
Akupun hanya diam, dan selang beberapa menit Nayla
dan Fadil pun pulang dengan berboncengan, saat aku melihat itu aku langsung
terjatuh, mengapa semua ini harus terjadi didepan mataku, aku tidak sanggup
melihat semua ini, ternyata orang yang aku cinta telah membua hatiku hancur dan
benar-benar sangat sakit. Begitu mereka udah tidak kelihatan air matakupun
menetes dan menangislah aku tersedu-sedu. Salma dan Lusi mencoba menghiburku,
namun aku masih saja menangis, karena baru kali ini aku merasakan sakit hati
yang begitu dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar