Waktu
Masih Panjang
|
A
|
ku masih menatap langit – langit kamarku. Tak lama ku
pejamkan mataku sejenak. Rasa lelah membuatku mengantuk. Kegiatan sekolah tadi
memang melelahkan. Menguras tenagaku yang memang sudah sangat lelah. Tak apa,
toh akhirnya aku bisa tiduran di rumahku sendiri. Melepas lelahku.
“Laras…” tiba – tiba ku dengar suara seseorang
memanggilku.
“Dalem...” ku jawab panggilan itu dengan
sopan.
“Coba tolong masukkan benang ini ke dalam
lubang jarum. Mata nenek sudah tua. Tak bisa melihat lubangnya.”
“Ke sini sebentar, cu, nenek butuh bantuanmu,”
pintanya. Segera ku hampiri nenekku itu. Rupanya dia sedang menyulam sebuah
kain. Nenekku memang suka menyulam.
“Ada apa, nek?” tanyaku saat menghampiri nenek
di teras bagian depan. Nenek sedang duduk di kursi goyangnya.
“Baiklah,” jawabku. Segera ku ambil benang
itu, dengan mudah ku masukkan benang ke lubang jarum yang kecil itu. “Sudah,
nek.”
“Terima kasih, ya. Kau memang cucu nenek yang
baik,” dia tersenyum sambil sesekali terkekeh.
“Iya, sama – sama, nek.”
“Kok belum ganti baju? Ganti baju dulu sana,”
dia mengerutkan kening.
“Oh, iya. Laras lupa, nek. Ya sudah, Laras
ganti baju dulu, ya?”
“Iya sana. Habis itu sholat dzuhur,” jelasnya.
Ku buka mataku. Aku rupanya tertidur cukup
lama. Jam dinding sudah menunjuk pukul 03.50 pm. Berarti aku tidur siang selama
dua jam. Aku masih mengenakan mukenaku. Mungkin karena kelelahan, aku langsung
merebahkan tubuhku di tempat tidur selesai sholat.
Tiba – tiba, aku merasa perutku bergetar,
mengeluarkan suara aneh. Sedikit ku pegangi perutku yang sedang kelaparan ini.
Aku memang belum makan sejak pulang sekolah tadi. Bergegas ku copot mukena yang
ku pakai. Melipatnya dengan sajadahku. Ku langkahkan kaki menuju ruang makan.
“Ya ampun, nasinya abis. Aduh… nasib, nasib.
Ah, lebih baik aku masak nasi lagi saja,” dengan terpaksa aku pun memasak nasi
lagi.
*~*~*
Kokok ayam bersahut – sahutan membangunkanku.
Tak lama, suara adzan shubuh pun mulai bergema. Segera ku beranjak dari tempat
tidurku mengambil air wudlu. Begitu sejuk menerpa wajahku ini. Setelah itu, aku
pun sholat shubuh dengan khusyuk.
Matahari masih malu – malu di ufuk timur
ketika aku sarapan. Hari ini aku masuk sekolah lagi, meski secara teknis masa
sekolahku di SMA Negeri 1 Kebumen telah habis. Ya, aku telah menempuh ujian
nasional. Tetapi, mengapa aku masih harus berangkat?
Meski aku kadang – kadang merasa jenuh di
sekolah karena tidak ada pekerjaan apa pun, hanya duduk – duduk di kursi
panjang depan kelas dan berbincang – bincang dengan temanku, aku tetap merasa
senang berangkat sekolah. Aku masih belum mengetahui apa yang membuatku seperti
itu, yang jelas setiap bertemu dengannya aku merasa sangat bahagia.
Tak terasa aku telah melahap habis semua
makananku. Meski hanya berlauk tempe dan sayur asem buatanku sendiri, aku tetap
menerima apa adanya. Toh sama saja kenyang.
“Nek, Kek, Laras mau berangkat sekolah.”
“Ah, iya iya, cucu nenek memang anak yang
rajin,” katanya sambil tersenyum, “jadilah anak yang pandai, ya?”
“Iya, nek,” ku cium tangan nenek, nenek
membelai kepalaku yang tertutup kerudung dengan penuh kasih sayang. Tak lupa
kakekku. Beliau juga membelai kepalaku.
“Assalamu’alaikum,” ku lambaikan tangan pada
kakek nenekku. Mereka membalasnya.
“Wa’alaikum salam, hati – hati di jalan,”
nenek mewanti – wanti.
Kelas masih sepi, hanya beberapa orang saja
yang baru berangkat. Itu pun adik kelasku. Ku langkahkan kaki menuju kelasku.
Ku rasa tak ada orang di dalam. Dengan langkah santai aku memasaki kelas.
Deg, jantungku berdetak kencang. Ternyata
sudah ada orang di dalam. Dia masih menundukkan wajahnya, mungkin sedang
bermain handphone-nya atau apa lah. Sejenak aku berdiri mematung di pintu
kelas. Hatiku bimbang antara masuk atau menunggu temanku yang lain untuk
menemaniku masuk karena ada cowo yang telah duduk di bangku kelas.
Dia mendongakkan kepala, mengangkat wajahnya.
Ah, dia sangat tampan. Segera kutepis pikiranku itu. Mata kami bertemu. Ada
sesuatu yang memaksaku menyunggingkan senyum padanya. Dan dia pun membalas
senyumku. Ya ampun, aku harus apa sekarang? Dia sangat manis, batinku.
Dengan reflek ku balikkan tubuhku membelakangi
orang itu. Ku putuskan untuk menunggu temanku di bangku depan kelas saja. Baru
saja satu langkah, tiba – tiba, “Kenapa gak taruh tasnya dulu di bangku?” dia
sukses membuatku kaget.
“E… e… iya juga yah,” aku terlihat sangat
bodoh saat itu, mengapa juga aku harus menjawab pertanyaan anak itu? Ah,
lupakan. Ku lirik dari ekor mataku, dia tersenyum geli melihat kelakuanku yang
kebingungan tadi, ku rasa. “Ngapain ngetawain? Ada yang lucu?” tanyaku sewot.
“Enggak, kok, orang lagi baca komik, wle~,”
dia menjulurkan lidahnya. Sekali lagi aku merasa salah tingkah. Aduh, dasar
bodoh! Sok tau lagi! dasar bodoh! Aku memaki diriku sendiri.
Ku tersadar dari lamunanku tadi. Yah, itulah
awal aku mengenal dirinya. Dan kini, entah mengapa hatiku merasa ‘menyukai’
dirinya. Ah, tak mungkin. Dia tak
mungkin mencintaiku. Apalagi mencintaiku, memberi perhatian saja dia tak
pernah. Uhh, dia memang cuek. Sangat cuek.
“Hai, Laras,” sapa seorang cowo menghampiri
mejaku.
“Hai juga,” jawabku acuh.
“Kok, sama Mas Iwan kayak gitu jawabnya?” dia
mulai melancarkan jurus ‘lebai’nya.
“Ihh, emang harus gimana?” tanyaku masih acuh.
“Ya… gimana, yah, aku juga ga’ tau.”
“Makanya cari tau dulu.”
“Di mana carinya?”
“Di kolong meja siapa tau ada, sanah cari
dulu,” aku menahan tawa.
“Hah?” Iwan mulai bertingkah konyol.
*~*~*
Suasana di sini begitu sejuk. Ada sebuah
bangku panjang di sebelah kiriku. Aku pun duduk. Pemandangannya indah sekali.
Ada taman bunga yang berwarna – warni di depan mataku. Aku melihat sekeliling.
Sebenarnya, di mana aku ini?, gumamku.
Aku menoleh ke depan. Di depanku telah ada
setangkai bunga melati yang indah. Aku kaget. Ternyata ada tangan yang memegang
bunga itu dan menyodorkannya padaku. Aku mulai melihat wajah orang itu. Dia
tersenyum. Deg, jantungku serasa berhenti berdetak. Apa aku tak salah lihat?
Apa yang dilakukan Dimas di sini? Kenapa dia memengang bunga melati itu dan
memberikannya padaku. Beribu pertanyaan berkecamuk di otakku.
“Laras, maukah kau menerima cintaku?” pinta
Dimas sambil menyodorkan bunga padaku. Bagai disambar petir tenggorokanku
terasa tercekat. Kaget bukan kepalang. Mendadak lidahku kelu. Tak bisa
mengeluarkan kata - kata. Jantungku berdebar – debar. Pikiranku sungguh kacau
waktu itu. “Laras?” dia memanggilku dengan sangat lembut.
“I… Iya, ada apa?” jawabku gugup.
“Kenapa diam saja? Terimalah bungaku ini,”
pintanya. Kali ini aku mulai berkeringat. Rasa gugup, senang, dan bingung
berkumpul jadi satu.
Aku mulai menggerakkan tanganku untuk
mengambil bunga itu. Tiba – tiba tubuhku tergoncang – goncang. Seperti gempa.
Mendadak semua menjadi gelap. Telingaku mulai menangkap suara orang
memanggilku.
“Laras? Bangun, Laras, hari sudah siang,” kata
suara itu. Dia menggoncang – goncangkan tubuhku. Ku buka mataku perlahan. Orang
itu mulai terlihat jelas di mataku.
“Ah, nenek. Kenapa membangunkan Laras? Tadi
mimpinya lagi seru – serunya,” aku sedikit cemberut.
“Kau ini bagaimana? Sekarang sudah setengah
tujuh. Ayo bangun, mandi, sarapan.”
“Hah? Yang bener, nek?! Masya allah…” aku
langsung melompat dari tidurku.
*~*~*
Mimpi itu kembali mampir di pikiranku. Ah, aku
terlalu berharap padanya waktu itu. Tetapi begitu memasuki semester dua, aku
sudah sibuk dengan persiapan ujian nasional. Selama waktu itu pula aku tidak memikirkan
Dimas lagi. Aku mulai menyukai pelajaran akhir – akhir ini, juga membaca buku.
Aku lebih memikirkan cita – citaku kelak. Menjadi seorang dokter. Aku ingin
membantu menyembuhkan orang yang sakit. Jika mereka tak memiliki uang,
Sekolah sudah mulai sepi. Hanya beberapa orang
yang masih sibuk dengan urusannya sendiri. Banyak dari mereka yang sibuk di
kantin. Ya, kantin memang sangat ramai dan cocok dijadikan tempat untuk
mengobrol. Aku tidak tertarik dengan mereka. Aku tidak biasa menghabiskan waktu
dengan berbicara yang tidak berguna. Teman sebangkuku juga sudah pulang. Tadi
dia sempat mengajakku pulang bersama. Tapi aku menolaknya. Aku ingin membaca
buku di perpustakaan SMA-ku ini.
Langkah kakiku semakin mendekati perpustakaan.
Bergegas ku lepas sepatuku ketika aku sudah tiba di teras perpustakaan. Ku
letakkan sepatuku pada rak di depan perpustakaan. Sempat ku baca sebuah slogan
di atas rak sepatu yang berkali – kali aku baca ketika aku meletakkan sepatuku
sampai – sampai aku menghafalnya. Slogan itu berbunyi, “Alas Kaki Harap
Dilepas.” Itu wajar, karena perpustakaannya berlantai karpet.
Aku masuk. Menyapa penjaga perpustakaan,
“Assalamu’alaikum, Pak Mardi,” sapaku lembut dan tidak terlalu keras.
“Wa’alaikum salam, Laras, gimana ujiannya
kemarin?” Pak Mardi menyodorkan buku kunjungan padaku.
“Alhamdulillah, pak, saya bisa mengerjakannya
dengan mudah. Semoga saja hasilnya sesuai harapan,” jawabku sambil menulis
namaku di buku daftar kunjungan. Hari ini tak banyak yang berkunjung ke
perpustakaan.
“Aamiin. Rencananya mau kuliah di mana?”
“Uhm, saya gak tau, pak, tergantung orang
biaya orang tua saya. Saya, sih, penginnya di UGM, atau kalau enggak, ya, di
Unsoed,” aku selesai mengisi daftar kunjungan. Sempat ku baca salah satu
pengunjung di situ. Dimas? Apa dia di sini? Ya ampun, batinku.
“Wah, bagus itu, fakultas apa yang akan Nak
Laras ambil?” beliau menutup daftar kunjungan.
“Hmm, saya penginnya masuk fakultas
kedokteran, pak, mau jadi dokter,” jawabku sedikit malu.
“Oh, hehehe,” Pak Mardi terkekeh, “Mau jadi
dokter, ya? Ya bagus, dong, nanti kalau bapak berobat gratis, ya? Soalnya, sst…
bapak orang miskin,” candanya.
“Oh, tentu saja, pak, itu juga salah satu
tujuan saya menjadi dokter, memberi keringanan pada orang – orang miskin agar
bisa berobat.”
“Wah, Nak Laras memang baik. Bapak do’akan
semoga bisa tercapai cita – citamu,” beliau tersenyum ramah. “Perbanyaklah
membaca buku.”
“Aamiin. Iya, pak, saya juga mau baca – baca
buku di sini.”
“Ya, silahkan.”
Aku langsung menuju rak buku bagian fiksi. Aku
memilih – milih novel yang menurutku bagus untuk ku baca. Setidaknya bisa
mengisi waktu sampai pukul satu siang. Ku lihat jam, masih pukul 10.00 am.
Masih pagi, tetapi teman – temanku sudah pulang. Hmm, biarkan saja lah.
Aku menemukan buku yang ku cari. Aku mengambil
tempat duduk yang nyaman. Ah, sepertinya pojok rak buku itu cukup nyaman,
pikirku. Aku pun duduk di pojok rak buku sambil mulai membuka – buka halaman
novel.
“Mau jadi dokter, ya?” tanya seseorang yang
tiba – tiba saja sudah ada di dekatku.
“Dimas? Ngapain kamu di sini?” ternyata Dimas
memang ada di sini. Sekarang aku tak lagi kaget, karena kami memang sudah
sering mengobrol.
“Cuma iseng – iseng aja, baca – baca buku.”
“Ohhh…” jawabku sekenanya.
“Kamu juga ngapain di sini?” tanyanya.
“Cuma pengin baca buku, kenapa?” jawabku tanpa
menoleh dari novelku.
“Eh, minggu depan makan – makan, yuk?”
“Hah? Makan – makan? Ngapain?” kali ini aku
menoleh. Tetapi kemudian aku membaca novelku lagi.
“Gak apa – apa, cuma pengen nraktir kamu aja,”
jawabnya polos.
“Hah? Cuma aku?”
“Hmm, kalo keberatan juga bisa, kok, ngajak
yang lain, besok aku akan ajak Iwan.”
“Hmm, boleh tuh, aku ajak Indah aja,” Indah,
teman sebangkuku.
“Oke, sampai jumpa minggu depan, ya?” dia
mulai beranjak dari tempat duduknya di sebelahku.
“Eh, tunggu, tunggu, ada apa sih sebenarnya?”
tanyaku sambil menarik kaosnya, “Ups, maaf,” lagi – lagi aku malu pada diriku
sendiri.
“Ah, tak apa. Nanti juga tahu sendiri, kok,”
dia berdiri dan tersenyum padaku.
“Ya sudahlah, sampai jumpa minggu depan.”
“Ya… oh, iya, nih ada surat buatmu,” dia
merogoh sakunya, kemudian memberikan surat itu padaku.
“Apaan?” tanyaku polos.
“Udah, baca aja sendiri. Oke, aku mau pulang
dulu, ada seseuatu yang harus aku selesaikan,” dia melangkah keluar
perpustakaan. Aku hanya memandangnya hingga ia tak tampak lagi. Lantas aku
memandang surat yang diberikan Dimas. Apa ini? gumamku. Aku buka surat itu. Ku
baca dari atas sampai bawah. Jantungku sedikit berdebar – debar ketika
membacanya.
*~*~*
Hari yang
ditentukan telah tiba. Aku telah mempersiapkan semua jawaban untuk Dimas. Ku
lirik jam tangan, sudah pukul 08 a.m., pertemuan kami nanti pukul o9 a.m. di
café dekat SMA Negeri 1 Kebumen. Jaraknya tak cukup jauh, hanya 100 meter ke
timur.
Mendadak handphone-ku berdering, ada sebuah
panggilan masuk. “Halo?” sapaku pada orang yang meneleponku.
“Halo, Laras,
assalamu’alaikum,” jawabnya.
“Wa’alaikum
salam, ini siapa?”
“Ini paman,
Nak.”
“Oh, paman,
ada apa paman?”
“Ibumu, Nak,
ibumu,” suara paman tergesa.
“Ada apa
dengan ibu, paman?”
“Ibumu sedang
di RS Kebumen , penyakit levernya kambuh, ibumu ingin kamu menjenguknya” jawab
paman.
“Baiklah,
paman, Laras akan ke sana,” sejenak terlintas di benakku ketika dua tahun yang
lalu penyakit ibuku kambuh, dan sekarang kambuh lagi. Klik. Ku tutup
pembicaraanku di telepon.
Kini aku
bingung harus memilih antara traktiran Dimas atau menjenguk ibu. “Aduh, kalau
aku menjunguk ibu, nanti kasihan Dimas, ah, tapi tak apalah, aku bisa mengirim
pesan untuknya, semoga saja dia mau mengerti dengan keadaanku.” Aku segera
mengetik pesan yang agak panjang untuk Dimas. Isinya :
‘Dimas, maaf aku tak bisa datang di café sekarang.
Ibuku sakit dan aku harus menjenguknya. Soal surat itu, maaf ya. Sementara ini
aku sedang tak ingin berpacaran dengan siapapun. Aku masih ingin belajar dan
kuliah untuk menggapai cita – citaku. Aku tau kamu kecewa, tapi jangan
khawatir, waktu masih panjang untuk kita menjalin hubungan. Lebih baik pikirkan
dulu masa depan kita. Sekali lagi, maaf, ya? Kamu masih bisa kok makan – makan
dengan Iwan dan Indah. Oh ya, sampaikan maafku untuk mereka juga ya? Terima
kasih’
Tak lama aku
pun bergegas ke luar rumah, nenek dan kakek telah aku beritahu. Mereka juga
ikut menjenguk ibu. Kami bertiga menyetop sebuah angkot di pinggir jalan. “Maafkan
aku, Dimas,” batinku. Angkot pun melaju membawa kami dan penumpang lain.
Kebumen, 20 Mei 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar